Penantian Singkat

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

menanti matiSahabat, pernahkah menunggu kedatangan sesuatu yang sudah pasti datang tapi belum pasti waktunya? Bagaimana rasanya? Terasa sebagai penantian panjang atau justru penantian singkat?

Ada kalanya kita merasa menunggu selama satu jam itu rasanya bagai setahun, tapi ada kalanya juga menunggu 9 bulan hanya seperti semenit. Apa yang membuatnya berbeda?

Ya, sering kali terasa lama dan singkatnya penantian itu dipengaruhi oleh kegiatan apa yang kita perbuat selama menunggu. Orang yang tidak ada kerjaan, tidak berbuat apa-apa selama menanti, biasanya akan kehilangan mood, kesal, dan efeknya jadi merasa telah menunggu begitu lama walau sebenarnya hanya sebentar saja.

Sebaliknya, orang yang memiliki banyak kegiatan, banyak target pencapaian, banyak berhubungan dengan orang lain, akhirnya merasa penantiannya tidaklah lama, justru amat singkat.

Saking singkatnya, ada pula orang yang justru marah ketika yang dinantinya datang, sangat mungkin ini terjadi karena sebenarnya ia tidak siap dengan kedatangan yang tiba-tiba, atau karena dia memang tidak pernah mempersiapkan kedatangan ‘tamunya’ tersebut, sehingga ia jengkel ketika secara mengejutkan tamu itu datang begitu saja di hadapannya.

Sebaliknya, orang yang sudah banyak persiapan, justru akan senang ketika tamu yang dinanti akhirnya tiba. Seperti bertemu dengan kawan lama yang telah dirindukan.

Sahabat, ketahuilah bahwa hidup ini hanyalah penantian singkat. Apa yang kita nantikan? Tentu saja sesuatu yang pasti datang meski dirahasiakan waktunya, tamu yang akan tiba sekalipun tak ditunggu dan tak diharapkan, yakni kematian!

Itu sebabnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalaam dengan tegas menyatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya. Bukankah amat bodoh jika kita sudah tahu sesuatu itu pasti datang tapi tak pernah bersiap menyambut kedatangannya?

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. Annisa: 78)

Yang lebih bodoh lagi adalah jika kita berusaha menghindari kematian, ibaratnya seseorang yang berusaha tidak basah ketika berenang. Sungguh konyol dan tidak penting! Mengapa harus menghindari sesuatu yang sudah pasti terjadi?

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jumu’ah: 8)

Tentu saja yang terbaik adalah jika kita melakukan banyak amalan selama menanti datangnya kematian! Bukankah Allah menyuruh kita beramal shaleh, memperbanyak silaturahim, agar tak merasa bosan dalam mengisi hari penantian? Sehingga kapanpun kematian datang, kita akan siap dan tidak banyak penyesalan dalam menyambutnya.

“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir.” (HR. Ahmad)

Semoga kita senantiasa menyadari bahwa tiap detik yang berlalu semakin mendekatkan kita pada akhir hidup. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang