Skip to content

Pentingnya Gaya Hidup Zuhud

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Gaya Hidup Zuhud

Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu,” (HR. Ibnu Majah)

Sahabat, banyak orang yang belum menyadari pentingnya gaya hidup zuhud. Sebagian orang ketika mendapati penghasilannya meningkat, gaya hidup mereka pun ikut-ikutan meninggi. Yang awalnya cukup Rp20.000,- sekali makan, begitu jumlah penghasilan naik, uang makan pun naik jadi Rp50.000,- sampai Rp100.000,- sekali makan.

Contoh Gaya Hidup Zuhud Rasulullah SAW dan Para Sahabat

Padahal Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau telah mencontohkan gaya hidup zuhud. Penghasilan miliaran bahkan triliunan, para calon penghuni surga ini hanya tidur di atas tikar, memakai pakaian yang bertambal, dan makan dengan roti dari bahan gandum yang kasar. Uang mereka hampir seluruhnya dihabiskan di jalan Allah SWT untuk menghidupi keluarga dhuafa lainnya.

Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berkata kepadaku: ”Sesungguhnya Allah menawarkan kepadaku dataran Mekkah untuk dijadikan emas dan diberikan kepadaku, maka aku menolaknya, lalu aku berkata, “Aku tidak mengharapkan itu semuanya Ya Allah, akan tetapi aku lebih senang sehari lapar dan sehari kenyang. Tatkala hari yang aku merasakan lapar, aku merendah diri dan berdo’a kepada-Mu, sementara tatkala hari yang aku merasakan kenyang, aku bersyukur dan memuji-Mu,”,

Sungguh, Rasulullah SAW tidak tidur di kasur yang empuk, bahkan beliau marah jika kenyamanan tempat tidurnya malah membuat beliau lalai bangun untuk mengerjakan shalat.

Rasulullah SAW tidur di atas baju yang dilipat dua. Pada suatu malam baju itu dilipat empat, dan beliau tidur di atasnya. Ketika bangun terlambat dari biasanya disebabkan hal itu, beliau pun berkata, “Engkau semua telah menghalangiku dari shalat malam disebabkan baju ini. Lipatlah dua sebagaimana biasa melipatnya!

Kita mungkin tak bisa meniru sampai sedemikian zuhud dan tidak menikmati hal-hal duniawi sama sekali, namun setidaknya kita bisa menurunkan standar hidup kita. Yang biasanya tidak bisa makan tanpa lauk pauk minimal 5 macam. Sekarang dikurangi jadi 2 macam saja cukup.

Yang biasanya harus membeli pakaian bermerek, harga mahal, sekarang setiap akan membeli baju, tas, atau sepatu baru, usahakanlah mengeluarkan yang lama untuk disedekahkan pada orang lain.

Sahabat, perlu diketahui inilah beberapa keuntungan jika kita berhasil menerapkan gaya hidup zuhud:

1. Terbiasa Hidup Sederhana dan Prihatin

Orang yang terjauh dari kemewahan akan lebih mudah bertahan hidup dalam berbagai kondisi. Bukankah kita tidak mengetahui sampai kapan diuji dengan kemewahan? Bagaimana jika di masa depan segala harta yang kita miliki Allah tarik kembali?

Maka beruntunglah orang-orang yang hidup sederhana dan takkan merasa kesulitan beradaptasi dalam segala kondisi.

2. Hemat

Selain baik untuk pembentukan karakter psikologis, secara ekonomi pun hidup zuhud sungguh menguntungkan. Dengan terbiasa hidup sederhana, kita akan lebih hemat biaya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Lebih Ringan Hisab di Akhirat Kelak

Dengan hidup zuhud jauh dari kemewahan dunia, hisab di akhirat kelak pun akan lebih ringan dibandingkan dengan orang yang terbiasa menghabiskan uangnya untuk hidup bermewahan.

Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya,” (HR. Tirmidzi)

4. Tidak Teperdaya Dunia

Orang yang zuhud cenderung lebih ingat bahwa dirinya di dunia ini hanyalah bagai musafir yang hanya singgah sebentar saja. Hatinya tidak terlalaikan oleh kemewahan dunia yang palsu dan bersifat sementara saja.

Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)” (HR. Ibnu Majah)

Sahabat, sudah siapkan menjadikan zuhud sebagai gaya hidup baru kita? (SH)

Baca Juga: Melepas Hasrat Dunia, Perbanyak Sedekah Jariah

Wakaf Sekarang