Provokator Kebaikan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

provokasi kebaikanSahabat, pernahkah kita menjadi provokator kebaikan? Untuk kebaikan sekecil apapun, misalnya bersedekah dengan senyuman, menyumbangkan mukena untuk musola dan masjid, buang sampah pada tempatnya, menginspirasi keluarga untuk melaksanakan qurban, atau bentuk kebaikan lainnya?

Jangan sampai kita kalah dengan provokator maksiat, yang berani menyelenggarakan pool party, minum-minuman keras, mencicipi rokok untuk anak dan wanita, mengakses video porno untuk anak remaja, dan mereka melakukan semua provokasi itu dengan gencar tanpa kenal lelah. Na’udzubillah min dzalik.

Sesungguhnya, disadari ataupun tidak, setiap kita mendapat tugas dari Allah untuk menjadi provokator kebaikan:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 110)

Bagi yang bertanya-tanya, apa sebenarnya manfaat mengajak orang lain berbuat baik? Atau mungkin ada yang berpikir… Bukankah cukup diri kita sendiri yang baik, kenapa harus mengajak orang lain juga? Mari perhatikan beberapa firman Allah dan sabda Rasul berikut ini:

1. Orang yang mengajak orang lain pada kebaikan, akan mendapat pahala kebaikan itu sendiri tanpa mengurangi pahala si pelakunya

“Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka.” (HR. Muslim)

Artinya, ketika kita memprovokasi orang lain untuk berbuat suatu kebaikan, dan mereka melakukan kebaikan tersebut, maka kita akan memperoleh pahala kebaikan yang mereka lakukan itu. Luar biasa bukan?!

2. Menghindarkan dari azab Allah dan tidak terkabulnya doa

Nabi saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.”

(HR. Tirmidzi dari Hudzaifah ibn al-Yaman, hadits no.  2095)

Orang yang tak peduli pada sesamanya, tak mau mengajak pada kebaikan atau mencegah dari keburukan, maka Allah akan memberikan hukuman, serta tak akan mengabulkan doa mereka. Padahal Allah adalah Sang Maha Kasih yang senantiasa mengabulkan doa hambaNya.

3. Melepas tanggungjawab akhirat

Wahai Muhammad, ingatlah ketika sebagian pendeta Yahudi berkata kepada pengikutnya; “Mengapa kalian memberi nasehat kepada teman-teman kalian yang durhaka yang Allah akan dinasakan atau Allah akan adzab mereka di akhirat dengan adzab yang berat? Mereka berkata; “Kami tidak ingin disalahkan oleh Tuhan kalian kelak di akhirat. Mudah-mudahan orang-orang yang durhaka itu mau taat kepada Allah.” (QS Al-Araaf 164)

Sadari bahwa orang-orang di sekitar kita memiliki hak untuk diingatkan berbuat baik, jika kita tidak melakukannya, maka kelak di akhirat Allah akan mempertanyakan hal tersebut pada kita. Mengapa kita tidak menyuruh orang lain berbuat baik?

Sahabat, jangan menganggap tugas sebagai provokator kebaikan adalah sesuatu yang rumit, justru sebaliknya… Tugas ini begitu sederhana!

Sama seperti kita menikmati makanan super lezat, halal, dan gratis di sebuah restoran, bukankah kita akan tertarik mengajak orang lain untuk ikut makan di restoran tersebut? Demikian juga cara mengajak orang lain berbuat kebaikan.

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memprovokasi orang lain berbuat kebaikan:

1. Lakukan terlebih dahulu amal kebaikan yang paling mudah dan kita sukai!

Sangat aneh jika kita memprovokasi orang lain berbuat suatu kebaikan, namun kita sendiri tidak melakukannya.

Misalnya, kita menyuruh orang berbuat sedekah, namun kita pelit sekali mengeluarkan uang untuk sedekah.  Kita menyuruh orang untuk bersikap ramah dan ceria, tapi wajah kita sendiri lecek seperti pakaian tak pernah disetrika. Untuk orang yang seperti ini, justru amat celaka:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat munkar?” Orang itu berkata; “Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat  munkar, namun malah aku mengerjakannya.” (HR. Bukhari, no. 3027)

2. Buatlah tulisan mengenai kebaikan yang sudah sering kita praktekkan

Jika kita sering memasak dan memberikan sebagian masakan untuk tetangga, cobalah buat tulisan mengenai hal itu! Barangkali akan ada orang yang terprovokasi untuk melakukan kebaikan yang sama.

3. Share tulisan inspiratif melalui sosial media pribadi

Sahabat tidak bisa menulis? Jangan bersedih, kita bisa memanfaatkan sosial media sebagai wadah untuk memprovokasi kebaikan pada orang sekitar!

Misalnya Sahabat menemukan tulisan yang inspiratif, maka sebarkanlah kepada orang lain, mudah-mudahan ini bisa menjadi penambah amalan kebaikan dan penggugur kewajiban kita untuk menjadi provokator kebaikan.

4. Mengobrol dengan sahabat dan rekan kerja

Apa yang biasa kita obrolkan bersama rekan-rekan dan teman? Jadikan ajang untuk memprovokasi kebaikan pada mereka juga! Apa susahnya mengajak untuk tidak bicara jorok misalnya! Atau mengajak mereka untuk memberi tumpangan kendaraan pada rekan lain yang tidak punya kendaraan pribadi misalnya. Sederhana bukan?

Sahabat, sesungguhnya menjadi provokator kebaikan bukanlah tugas para mubaligh saja, setiap kita memiliki kewajiban untuk menyampaikannya juga. Semoga Allah mudahkan kita menjadi provokator kebaikan untuk lingkungan sekitar. (SH)

Wakaf Sekarang