Skip to content

Punya Hutang? Jangan Sepelekan

Punya Hutang

Punya Hutang? Jangan Sepelekan

Sahabat masih punya hutang?, satu hal ini yang terlihat sepele namun sebenarnya dampaknya sungguh tidak sepele. Bahkan seorang yang mati syahid sekalipun, bisa tidak memasuki pintu surga karena perkara yang satu ini.

Mengerikan bukan? Bagaimana mungkin mati syahid di jalan Allah yang seharusnya langsung mendatangkan tiket ke surga ternyata malah ‘tergantung’ hanya karena perkara ini. Ya, perkara mengenai hutang.

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang,” (HR. Muslim no. 1886)

Yang berbahaya, saat ini utang telah menjadi gaya hidup, dengan adanya kartu kredit, orang dirayu untuk lebih memilih berutang daripada membayar lunas, dengan iming-iming diskon sekian persen semakin banyak orang yang terbiasa dengan gaya hidup penuh utang.

Rumah didapat dengan utang, mobil pun utang, perabot dan mebel juga utang, sampai baju dan makan pun semuanya diperoleh dengan berutang.

Akhirnya, meskipun memiliki uang tunai, orang akan lebih tergiur menggunakan kartu kredit yang tinggal digesek saja.

Sebenarnya berutang bukanlah hal terlarang dalam Islam, bahkan memberi pinjaman utang termasuk dalam kategori muamalah tolong-menolong. Akan tetapi ada hal buruk yang perlu diwaspadai dalam berutang, antara lain:

1. Terjerat praktik riba

Waspada dengan riba yang terkandung saat kita berutang pada pihak lain. Riba merupakan kelebihan pembayaran dari utang yang dipinjamkan.

Jika kita berutang satu juta tapi harus mengembalikan utang sebanyak satu juta seratus ribu, maka ada riba sebesar seratus ribu dari transaksi tersebut.

Bukankah saat ini praktik riba banyak kita temukan pada kartu kredit atau
pinjaman berbunga lainnya? Padahal dosa riba sungguh tidak ringan.

Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda, “Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang laki-laki menikahi ibunya
sendiri,” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dari Abdullah bin Hanzhalah ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar, jauh lebih dahsyat dari pada 36 wanita pezina,” (HR. Ahmad)

2. Kebiasaan buruk orang-orang yang memiliki utang

Hal yang perlu diperhatikan lainnya oleh orang yang berutang adalah masalah
kebiasaan buruk yang muncul akibat terlalu sering berutang.

Kebiasaan buruk pertama adalah terbiasa berkata dusta dan ingkar janji. Apalagi jika utang sudah jatuh tempo tapi uang belum di tangan.

Sesungguhnya, apabila seseorang terlilit utang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan pungkiri,” (HR. Muslim)

Kebiasaan buruk selanjutnya adalah menunda-nunda pembayaran utang, sekalipun sudah memiliki uangnya.

Mengulur-ulur waktu pembayaran hutang bagi yang mampu adalah kezhaliman,

(Shahih Bukhari, no.2287 dan Shahih Muslim, no.1564)

Dan hal buruk lainnya yang banyak ditemui adalah tidak berniat membayar utang.

Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri,” (Shahih)

3. Masih menyisakan utang ketika meninggal dunia

Hal lain yang perlu diwaspadai dari kebiasaan berutang adalah masih memiliki utang ketika maut menjemput. Jadi yang diwariskan ke anak cucu bukanlah harta, melainkan utang. Dan tanpa disadari, hal ini adalah malapetaka bagi setiap mukmin.

Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai utang tersebut dilunasi,” (HR. Ahmad)

Sahabat, oleh karena itulah jangan sampai kita meremehkan perkara utang. Betapa besar dampak negatif dari kebiasaan berutang apalagi jika utang telah menjadi bagian dari gaya hidup. Astaghfirullah. Semoga kita terhindar darinya. (SH)

Meski tengah berutang dan berupaya melunaskannya, juga baiknya berwakaf meski hanya beberapa kali.