Tahun 2001, Dompet Dhuafa membuka Balai Pengobatan kecil bernama Layanan Kesehatan Cuma-Cuma. Namanya sederhana, misinya pun sederhana, memberi akses layanan kesehatan dasar bagi kaum dhuafa yang selama ini tidak sanggup membayar dokter. Tapi pasien terus berdatangan, dan sebagian dari mereka butuh lebih dari sekadar konsultasi dan obat. Mereka butuh rawat inap, butuh ruang operasi, butuh penanganan spesialis yang tidak bisa diberikan sebuah balai pengobatan.
Sebelas tahun kemudian, jawabannya berdiri di atas lahan wakaf seluas 37.228 meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 9.632 meter persegi. Pada 4 Juli 2012, Yayasan Rumah Sehat Terpadu meresmikan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, rumah sakit tipe C yang kelak terakreditasi A. Tanahnya diwakafkan oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika, dan biaya pembangunannya berasal dari dana wakaf.
Rumah, Bukan Sekadar Rumah Sakit
Nama “Rumah Sehat” dipilih bukan tanpa alasan. Pengunjung yang datang kerap bercerita hal yang sama, begitu melangkah masuk, ketegangan khas rumah sakit tidak mereka rasakan. Yang ada justru kehangatan, seperti masuk ke rumah sendiri. Karyawannya ramah, selalu tersenyum saat berpapasan dengan pasien, jauh dari kesan angkuh atau lelah yang sering melekat pada institusi kesehatan.
Di dalamnya berdiri ruang hemodialisa yang menampung pasien cuci darah rutin, ruang operasi lengkap dengan mesin phaco untuk operasi katarak, USG 4 dimensi, serta ruang rawat inap yang dirancang senyaman mungkin. Layanan berjalan penuh, mulai dari poli spesialis, ICU, farmasi 24 jam, hingga IGD yang siaga sepanjang hari.
Sejak pemerintah menetapkan era Jaminan Kesehatan Nasional, RST mulai bekerja sama dengan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan pada 2013, lalu memperluas kerja sama itu setahun kemudian. Rumah sakit yang semula dirancang khusus untuk dhuafa kini bisa menjangkau masyarakat lebih luas, tanpa melepaskan komitmen awalnya kepada mereka yang paling membutuhkan.
Amanah yang Terus Tumbuh
Setiap bulan, ribuan dhuafa datang ke RST untuk berobat tanpa perlu khawatir soal biaya. Angka itu terus bergerak seiring layanan yang terus diperluas, dan di baliknya ada satu benang merah yang sama sejak 2001, bahwa kesehatan tidak seharusnya menjadi barang mewah yang hanya bisa dijangkau mereka yang mampu.

RST dibangun dari wakaf, dan sampai hari ini masih terus berkembang dengan cara yang sama. Setiap rupiah yang diwakafkan menjadi bagian dari aset kesehatan yang manfaatnya terus mengalir, bukan sekali pakai lalu habis. Pewakif yang menitipkan hartanya di sini bukan sekadar menyumbang, mereka meneruskan sebuah amanah yang sudah berjalan lebih dari dua dekade dan akan terus berjalan untuk generasi dhuafa berikutnya.
Amanah para pewakif telah sampai, dan akan terus tumbuh selama rumah ini masih membuka pintunya bagi mereka yang membutuhkan.




