Saat Uang Dijadikan Ilah Selain Allah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

makna ilah, saat uang dijadikan ilah, saat uang dijadikan Tuhan“Tiap sesuatu akan mengalami kepunahan, yang kekal hanyalah Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27)

Sahabat, saat ini banyak orang yang menjadikan uang sebagai Tuhan mereka. Uang dianggap memiliki kekuatan besar, bahkan tak sedikit yang rela diperbudak oleh uang dan menjelma sebagai hamba uang.

Padahal jelas, setiap muslim telah bersumpah dalam syahadat yang diucapkannya “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (ilah) selain Allah.” Semestinya tiap muslim telah terbebas dari perbudakan uang.

Perbudakan seperti apakah yang dimaksudkan? Apa yang menjadi ciri-ciri seseorang telah menuhankan uang?

Mari kita merujuk pada makna ilah (Tuhan) terlebih dahulu. Dari situ kita bisa menemukan jawaban tentang perbudakan uang dan ciri-ciri hamba uang.

Akar kata ‘ilah’ dari bahasa Arab adalah kata kerja ‘aliha’, yang mengandung arti beragam, di antaranya yaitu:

1. Merasa tenteram kepadanya sehingga asyik dengannya dan tidak bersedia meninggalkannya.

Dari makna ini, salah satu ciri orang yang menuhankan uang adalah mereka yang merasa tenteram jika memiliki uang, asyik masyuk untuk mengejarnya dan menghabiskannya, serta enggan berpisah dengan uang.

Bukankah banyak orang asyik mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya? Mereka lebih memilih meninggalkan pasangan hidup dan anak-anak demi mengejar uang, serta takkan rela mengeluarkan uangnya untuk disedekahkan pada orang lain. Inilah ciri seorang hamba uang.

“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah.” (QS. Al Humazah: 2-4)

2. ‘Aliha’ juga berarti berlindung dengannya karena kagum kepada kekuatan, kehebatan, dan kekuasaannya.

Kita tentu mengenali orang-orang yang berlindung di bawah kekuasaan uang. Mereka begitu mengagumi harta, produk-produk merek ternama, makanan dan pakaian mewah, tempat tinggal dan kendaraan dengan unit terbatas, hanya bergaul dengan penguasa dan orang-orang kaya di level paling atas.

Kagum berlebihan pada dunia dan khususnya uang, dapat menyebabkan seseorang tanpa sadar telah menuhankan uang itu sendiri.

3. Rindu kepadanya karena keberadaannya memberikan rasa tenteram dan aman sehingga ia berusaha untuk selalu dekat dengannya.

Rasa rindu merupakan indikasi adanya cinta, demikian pula perasaan ingin selalu dekat, disebabkan kecintaan pada sesuatu. Maka, jika kita lebih mencintai uang dan kekayaan, selalu berusaha mengejar uang yang lebih dan lebih banyak lagi, namun melupakan kewajiban kita terhadap Allah. Itulah bukti bahwa kita telah menduakan Allah dengan Tuhan selainNya.

“Wahai orang-orang yg beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yg merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

4. Sangat mencintainya dengan ketulusan hati karena tiga hal tersebut di atas.

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yg kamu usahakan, perdagangan yg kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yg kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah: 24)

Bila keempat hal tersebut diketahui, dirasakan, dan atau diyakini, maka ia akan:

5. Menyembahnya dan siap mengorbankan apa saja karenanya, bahkan kalau perlu jiwa dan raganya pun dikorbankan demi cinta yang menenteramkan, melindungi, dan selalu ia rindukan itu.

Bukankah kita banyak menemukan orang-orang yang demi uang rela menjual dirinya, menggadaikan agamanya, bertaruh jiwa raga, dan mengorbankan tenaga serta waktu dan pikirannya semata-mata untuk memperbanyak pundi-pundi hartanya.

Mereka inilah hamba-hamba uang, yang disadari atau tidak telah melakukan dosa besar syirik yang tak diampuni Allah karena menyekutukanNya dengan makhluk.

Sahabat, semoga kita senantiasa mendapat kesempatan untuk memperbarui syahadat setiap harinya, agar kita terbebas dari menuhankan ilah-ilah selain Allah. Bahwasanya hanya Allah saja yang berhak untuk dikagumi, dipuja-puji, dirindukan, dicintai, serta dijadikan sebagai satu-satunya tempat bergantung dan berlindung. (SH)

Baca Juga: Inilah Keajaiban Sedekah Membuat Rezeki Penuh Barokah

Wakaf Sekarang