Sedekah Bukanlah Mesin Cuci atau Mesin Fotokopi

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

sedekah bukan mesin cuciWahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.” (HR. Muslim)

Sahabat, sungguh menyenangkan mengetahui makin banyak umat Islam yang gemar bersedekah. Akan tetapi kita masih perlu mewaspadai soal tergelincirnya niat, jangan sampai sedekah malah diniatkan sebagai ‘mesin cuci’ atau ‘mesin fotokopi’!

Apa yang dimaksud sedekah sebagai ‘mesin cuci’? Kita semua tentu sudah tak asing lagi dengan istilah korupsi, uang pelicin, amplop tak jelas asal-muasalnya, dan juga riba. Nah, ada sebagian orang yang memperlakukan sedekah seolah ‘mesin cuci’, yakni dapat membersihkan uang haram yang mereka peroleh.

Dengan mengeluarkan sedekah untuk kaum dhuafa dan anak yatim, mereka merasa dosa mendapatkan harta dari cara yang bathil akan bersih seketika. Benarkah demikian?

Memang benar urusan diterima atau tidaknya suatu amalan merupakan hak Allah yang menentukan, akan tetapi kita juga tak boleh mengabaikan aturan syariat yang bersumber dari Quran dan hadits Rasulullah, karena nyatanya Rasulullah pernah menyatakan bahwa sedekah dari harta haram takkan diterima.

Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari harta haram.” (HR. Muslim no. 224)

Dengan demikian, jelas bahwa sedekah bukanlah ‘mesin cuci’. Sebisa mungkin kita perlu menjauhi harta yang diperoleh dengan cara bathil ataupun tak jelas asal-usulnya. Jangan malah bergembira mendapat jatah uang ataupun fasilitas yang sebenarnya bukanlah hak kita.

Satu lagi niat yang perlu diwaspadai seputar sedekah adalah menjadikan sedekah sebagai ‘mesin fotokopi’. Apa maksudnya?

Memang tepat sekali jika dikatakan sedekah tak hanya mendapat ganjaran pahala di akhirat, tapi juga akan diganti oleh Allah dengan jumlah nominal berkali-kali lipat di dunia. Namun hal ini bukan berarti kita boleh meniatkan sedekah sebagai mesin fotokopi yang bisa menggandakan uang!

Celakalah hamba dinar, dirham, qothifah dan khomishoh. Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridho, dia akan celaka dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari. Catatan: Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid2/93))

Sungguh celaka jika niat sedekah kita hanyalah untuk mendapatkan ganti harta yang berlipat ganda. Bukankah segala amalan disandarkan pada niatnya?

Ketika seseorang meniatkan sedekahnya agar mendapat ganti harta yang lebih banyak, ia akan lebih peka dan sensitif jika tak memperoleh apa yang sudah diperhitungkannya.

“Saya sudah sedekah satu juta Rupiah, seharusnya saya minimal dapat ganti sepuluh juta dong, tapi kok ini cuma dapat ganti satu setengah juta saja? Tahu begitu lebih baik tak usah sedekah banyak-banyak.”

Memang benar ada orang yang langsung dibalas sepuluh kali lipat atau bahkan ratusan kali lipat dari jumlah sedekah yang ia keluarkan, dan hal ini sangat mungkin memotivasi kita untuk tidak pelit dalam menafkahkan harta di jalan Allah.

Sayangnya, amalan dengan tujuan duniawi sangat mungkin hanya mendapatkan keuntungan di dunia saja:

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud : 15-16)

Padahal tanpa kita niatkan mendapat ganti berlipat ganda, Allah sudah pasti akan mengganti sedekah kita berkali lipat, jadi mengapa kita tak meniatkan sedekah untuk kebaikan akhirat saja?

Sahabat, sedekah mungkin merupakan salah satu amalan yang berefek paling dahsyat baik di dunia maupun akhirat, akan tetapi semoga kita tak terjebak niat rendah hanya menjadikan sedekah semata-mata sarana untuk ‘mencuci dosa’ atau ‘menggandakan uang’ karena dengan demikian, kita takkan benar-benar dapat merasakan kelezatan bersedekah. (SH)

Wakaf Sekarang