Skip to content

Sedekah Saat Takut Miskin

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Grime02Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli.” (QS. Al Baqarah: 254).

Sahabat, pernahkah merasa takut kekurangan? Misalnya, setelah membuat rencana keuangan bulanan, ternyata nominal penghasilan yang diterima tidak sebesar nominal pengeluaran yang telah memiliki pos masing-masing.

Sebagai contoh, penghasilan yang diterima sepuluh juta, namun pengeluaran untuk cicilan mobil, cicilan rumah, uang makan, pendidikan anak, belanja bulanan, uang pulsa, transport, dan sebagainya melebihi sepuluh juta rupiah. Gaji yang terlihat besar pun akhirnya terasa kurang.

Dalam kondisi demikian, sangat wajar jika kita merasa takut kekurangan, takut menjadi fakir. Namun tahukah bahwa saat seperti inilah waktu paling tepat untuk mengeluarkan sedekah?

Mengapa ketika takut kekurangan harta dan khawatir menjadi fakir malah menjadi saat yang bagus untuk bersedekah? Ya, tentu saja karena Rasulullah sendiri yang menyampaikan ucapan tersebut.

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Jelas bahwa Rasulullah mendorong kita untuk tidak menunda-nunda sedekah sekalipun kita merasa khawatir kekurangan, karena ada hikmah besar di baliknya. Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi jawabannya:

1. Mengeluarkan sedekah memberi perasaan ‘kaya’ dan bahagia, yang baik untuk kejiwaan seseorang

Sahabat, saat ini makin banyak penelitan yang menunjukkan korelasi antara sedekah dengan kebahagiaan. Semakin besar uang yang ‘dibelanjakan’ orang untuk menolong sesama, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Studi Jorge Moll dari National Institutes of Health juga menemukan hasil bahwa ketika seseorang bersedekah, beberapa area di otak yang berhubungan dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya menjadi aktif.

Para peneliti pun meyakini bahwa ketika kita melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan hormon endorfin, yang memberi rasa bahagia, hal ini menunjukkan efek positif sikap dermawan pada kesehatan.

Mungkin ini sebabnya Rasulullah amat menganjurkan seseorang yang pelit dan takut miskin untuk bersedekah, karena sedekah mencegah penyakit hinggap ke diri kita.

2. Bersedekah di saat kekurangan membuktikan kesungguhan iman

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa orang akan bersikap pelit ketika dalam keadaan sehat. Jika di waktu seperti itu ia mau berbaik hati bersedekah, maka terbuktilah akan benarnya niat dan besarnya pahala yang diperoleh.

Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang, berbeda halnya ketika sehat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 112)

3. Menunjukkan tingkat ketawakalan yang tinggi

Sudah tahu pengeluarannya lebih besar dari pendapatan, tapi masih mau bersedekah, tentu saja hal ini menunjukkan tingginya ketawakalan seseorang kepada Allah.

Dan terhadap orang yang tawakal padaNya, Allah akan menunjukkan jalan keluar serta memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluarnya dan dia memberikan rezekinya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan tugasnya…” (QS. Ath-thalaq: 1-2)

Sahabat, mari kita bersedekah sekalipun dalam keadaan takut miskin dan kekurangan, karena Allah yang akan mencukupi diri kita. (SH)