Seorang Mukmin Takkan Mudah Tersinggung

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

mukmin sejati tidak tersinggung“Sesungguhnya Nabi Shalallaahu ‘alaihi wassalam tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat, apakah kita masih sering merasa tersinggung dengan ucapan orang lain? Seberapa seringkah? Dan hal-hal apa yang membuat hati kita sangat mudah tersinggung?

Apakah kita tersinggung dan marah ketika fisik kita dihina? Karena gemuk atau pendek atau pesek? Adakah kita tersinggung jika direndahkan status sosial kita? Atau kita tersinggung ketika merasa tidak diperlakukan dengan layak?

Sungguh seorang mukmin bukanlah orang yang mudah tersinggung dan lantas marah. Hanya urusan-urusan tertentu saja yang bisa menyinggung hatinya. Dengan demikian, kadar tersinggungnya seseorang sebenarnya bisa memperlihatkan juga kadar keimanannya.

Mengapa orang mukmin takkan mudah tersinggung?

Orang yang memiliki keimanan pada Allah maka akan menyadari bahwa ia sebenarnya tak memiliki apapun selain titipan Allah semata. Nah atas dasar ini, ketika ia dihina fisiknya, alih-alih tersinggung… Seorang mukmin sejati akan merasa kasihan pada orang yang menghina karena telah merendahkan ciptaan Allah.

Bagaimana jika yang dihina adalah pemikiran dan gagasannya? Hinaan orang akan dijadikan bahan kritikan dan introspeksi diri bagi seorang mukmin sejati. Bagaimana pun ia akan menyadari bahwa dirinya mungkin saja khilaf dan salah.

Lagipula mudah tersinggung hanya memperlihatkan kesempitan hati seseorang. Orang yang luas hatinya, lapang dadanya, takkan gampang terusik hanya karena hinaan manusia.

Orang yang mudah tersinggung hanya karena tidak disapa, tidak disebut gelar haji di depan namanya misalnya, hanya menunjukkan ketidakmampuannya mengaplikasikan keimanan dalam hidup sehari-hari. Untuk apa mendapat penghargaan di hadapan manusia kalau sebenarnya kita semua memang hina di hadapan Allah?

Mari kita sadari bahwa mudah tersinggung merupakan indikasi bahwa:

1. Kita memandang diri sendiri terlampau tinggi, sehingga langsung tersinggung ketika ada yang merendahkan

2. Keinginan dipandang baik di hadapan manusia

3. Porsi dunia masih cukup besar di hati kita

4. Hati ini masih kurang lapang untuk memaafkan

Meskipun manusiawi, tetapi perasaan tersinggung perlu dikelola alias dimenej agar tidak menodai pengakuan iman kita pada Allah. Mengaku beriman tapi kok gampang tersinggung, rasanya kurang sesuai.

Lalu, apakah yang bisa dan harus membuat tersinggung hati seorang mukmin?

Sebagaimana yang Rasulullah contohkan, setiap mukmin justru HARUS tersinggung ketika kehormatan Allah dihinakan. Jika tidak ada rasa marah atau tersinggung sama sekali mendengar agama Allah dilecehkan, malah membuktikan keimanan yang tak sempurna.

“Tidaklah Rasulullah SAW dihadapkan pada dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak merupakan suatu dosa. Namun, bila sesuatu itu dosa, beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Tidaklah beliau membalas karena dirinya kecuali kehormatan Allah SWT dilanggar maka beliau pun marah.” (HR. Bukhari)

Memang ketersinggungan terhadap hal ini pun perlu diekspresikan dengan tepat, tidak asal marah dan malah terprovokasi melakukan kezaliman. Apalagi saat ini banyak orang yang sengaja memancing emosi dan keributan dengan melecehkan agama Allah.

Pada intinya, rasa tersinggung dan marah merupakan emosi manusiawi yang pasti dimiliki semua manusia normal pada umumnya. Akan tetapi, tergantung keimanan ataukah hawa nafsu yang berhasil mengendalikannya.

Semoga kita masuk dalam golongan orang-orang yang berlapang dada dan tidak mudah tersinggung. Karena satu-satunya yang menjadi tujuan kita adalah penghargaan Allah, dan bukannya manusia. (SH)

Wakaf Sekarang