Siapa Bilang Allah Benci Orang Kaya?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

orang kaya

Benarkah Orang Kaya atau Kekayaan Kurang Disukai Allah?

Sahabat, banyak yang salah persepsi, menganggap Allah dan RasulNya mencintai orang miskin dan membenci orang kaya. Hal ini dikarenakan banyaknya hadits mengenai keutamaan orang miskin dan lemah:

“Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun.”

[Hadits hasan shahîh. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2353, 2354) dan Ibnu Majah (no. 4122), dari Abu Hurairah. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi (II/276, no. 1919)]

Hadits senada dengan yang di atas:

“Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

Mengapa orang kaya tertahan dari masuk surga sedangkan orang-orang miskin sudah terlebih dulu masuk surga dengan selisih waktu setengah hari yang kadarnya 500 tahun perhitungan kita saat ini?

Tentu saja dikarenakan banyaknya harta si kaya yang perlu dipertanggungjawabkan! Dari mana asal harta tersebut, dan dibelanjakan untuk apa saja.

Sementara si miskin, jangankan harta, hari-harinya selama hidup diisi dengan rasa lapar, lalu apa yang perlu dipertanggungjawabkannya begitu lama? Inilah bentuk keadilan Allah.

Harta Menjadi Tanggung Jawab yang Besar di Akhirat Kelak

Tertahannya kaum muslimin yang kaya untuk masuk surga ini tak lantas menjadi pembenaran bahwa Allah membenci orang-orang kaya. Simaklah hadits berikut ini:

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, shahih)

Baca Juga: Sedekah Menjadi Bekal di Akhirat

Kuat dalam hadits di atas mencakup kuat fisik, jiwa, dan materi yang tentu saja terkait dengan kekuatan keimanan pada Allah. Dari hadits ini jelas terlihat bahwa jika harus dibandingkan 2 orang mukmin dengan kekuatan iman yang sama, tentu Allah lebih mencintai mukmin yang lebih kuat secara materi juga.

”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (An-Nisa :9)

Oleh sebab itu, tak ada lagi dalih bagi orang mukmin untuk melemahkan semangatnya dalam mencari penghidupan yang baik di dunia, karena seorang mukmin yang kaya akan memiliki lebih banyak peluang dalam beribadah: Berzakat, bersedekah, berwakaf, berhaji, serta meninggalkan keturunan yang tak perlu dikhawatirkan kesejahteraannya.

Semoga Allah mampukan kita menjadi mukmin yang kuat, mencintai dan dicintaiNya. (SH)

Wakaf Sekarang