Siapkah Mati Hari Ini?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

mati sudah punya bekal apa“Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian.” (HR. Ad-Dailami)

Sahabat, amat sombong jika kita menyatakan sudah siap mati hari ini juga. Seolah-olah amalan kita sudah cukup, tanggungjawab amanah kita sudah selesai tertunaikan. Akan tetapi, tetap penting untuk selalu bertanya pada diri: Sudah siapkah jika kita mati hari ini?

Pertanyaan mengenai kesiapan kematian ini tentunya berimbas pada banyak hal, karena ketika kita meninggalkan dunia ini, ada banyak perkara yang perlu diselesaikan, baik perkara yang kita bawa ke alam kubur, maupun perkara yang tertinggal.

“Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, ketika kita menanyakan pada diri sendiri mengenai sudah siapkah kita mati, 3 perkara ini perlu ditelisik lebih jauh:

1. Keluarga

Jangan merasa telah siap hadapi kematian jika kita masih meninggalkan keturunan yang ‘lemah’, terutama dalam hal kesejahteraan dan juga tentunya dalam hal keimanan.

“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. Annisa: 9)

Sudahkah kita menafkahi tanggungan kita dengan baik, mendidik mereka dengan pemahaman agama yang kuat, kenal dengan Allah, dekat dengan nilai-nilai Islam, sehingga kapan pun kita meninggalkan mereka, kita tak perlu mengkhawatirkannya lagi.

Selain mengenai generasi penerus, perlu juga kita pastikan apakah ada hak keluarga dan kerabat yang kita abaikan? Silaturahim yang terputus di antara saudara sekandung? Jangan sampai kita merasa telah siap meninggalkan dunia ini padahal masih ada hak dan silaturahim yang perlu ditunaikan.

2. Harta

Kematian akan memisahkan kita dari harta yang telah dikumpulkan dan dicari dengan berbagai jerih payah. Oleh sebab itu, penting memastikan apakah harta yang kita kumpulkan telah kita jadikan investasi akhirat?

Seberapa banyak sedekah, wakaf, serta kewajiban zakat yang telah kita tunaikan? Apakah aman jika kita meninggal hari ini dengan jumlah investasi akhirat yang hanya sejumlah tersebut?

3. Amalan

Satu-satunya yang terus menemani kita hingga ke liang kubur adalah amalan yang kita lakukan. Dengan demikian inilah perkara terpenting yang perlu kita perhatikan.

Adakah kita telah menunaikan berbagai amalan wajib yang Allah perintahkan? Adakah amalan unggulan yang secara kontinyu kita lakukan setiap harinya? Adakah keikhlasan kita dalam melakukan setiap amalan kebaikan tanpa mengharap balasan atau pencitraan di hadapan makhluk?

Sahabat, ketahuilah dengan mempersiapkan diri menghadapi kematian setiap harinya, kita bisa terhibur dari kelelahan menjalani hidup di dunia.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hlm. 9)

Sahabat, semoga kita bisa menjadikan kematian sebagai sebaik-baiknya pelajaran dan pengingat terputusnya nikmat sehingga kita takkan habiskan waktu percuma untuk mengejar dunia yang semu. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang