Sudahkah Kita Menjadi Seorang Ulil Albab?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Ulil Albab

Sahabat, pernahkah merasa heran mengapa ada orang-orang cerdas namun tidak mengakui keberadaan Tuhan? Atau orang-orang cerdas namun tidak memeluk agama Islam? Bukankah semestinya kecerdasan mereka menunjukkan dirinya pada hidayah atau petunjuk Allah?

Nyatanya tidak demikian, cerdas saja tidak cukup, dibutuhkan level yang lebih tinggi dari sekadar cerdas untuk mencapai pengakuan akan kebesaran Allah serta ketundukan pada Sang Pencipta. Level ini bisa disebut sebagai “ulil albab”.

Dalam banyak ayat di Al Qur’an, Allah sering menyebutkan kata “ulil albab” yang sering diartikan sebagai orang-orang yang berakal, atau orang-orang yang berpikir. Akan tetapi faktanya, kata ulil albab mengandung makna yang lebih dalam lagi yang tidak ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab.” (QS. Ali Imran: 190)

Pertanyaannya, apa yang menjadi kriteria seseorang bisa dimasukkan dalam golongan “Ulil Albab”? Apakah orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) tinggi seperti cendekiawan dan para ilmuwan sajalah yang bisa digolongkan sebagai “ulil albab”? Bisakah diri kita menjangkau level “ulil albab”? Jawabannya tentu saja bisa!

Sahabat, dalam buku Qur’anic Quotient karya Udo Yamin Efendi Majdi, selintas dijelaskan bahwa kata “ulil albab” merujuk pada gabungan 3 jenis kecerdasan yang kita kenali selama ini, yaitu: kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi seorang “ulil albab”, kita harus mengasah 3 jenis kecerdasan tersebut.

Mari kita simak ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang ciri-ciri “Ulil Albab” berikut ini:

1. Terkait dengan kecerdasan intelektual (IQ)

– Seorang ulil albab akan senantiasa merenungi hikmah penciptaan alam semesta. Sebagaimana firman Allah dalam 2 ayat berikut:

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering, lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (ulil albab).” (QS. Az Zumar: 21)

“Ulil Albab (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Oleh sebab itu, jika kita ingin menjadi seorang yang disebut Allah “ulil albab”, pergunakanlah waktu dan akal kita untuk memahami hikmah penciptaan dunia ini. Jangan sekadar menikmatinya tanpa berpikir.

– Seorang ulil albab akan mendengarkan perkataan dengan seksama, kemudian mengikuti yang terbaik di antaranya.

“Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (ulil Albab) (QS. Az Zumar: 18)

2. Terkait dengan kecerdasan emosional (EQ)

Seorang ulil albab juga bisa dipastikan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Yakni: memenuhi janji dan tidak merusak amanah, menghubungkan silaturahim, sabar, memberi sebagian rezeki pada orang yang membutuhkan, serta mampu membalas kejahatan dengan kebaikan. Sebagaimana yang Allah beritahukan dalam Qur’an:

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (Ulil albab) saja yang dapat mengambil pelajaran.

(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,

Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar Ra’d: 19-22)

3. Terkait dengan kecerdasan spiritual (SQ)

Selain cerdas secara intelektual dan juga emosional, ulil albab juga merupakan orang-orang yang memiliki kedekatan  pada Allah, yakni melakukan bisnis dengan Allah, melalui ketakwaan dan ketawakalannya berserah diri pada Allah.

“… Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (ulil albab).” (QS. Al Baqarah: 197)

Sahabat, ternyata ulil albab merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Ibarat mobil, tak mungkin disebut mobil jika hanya memiliki kaca spion saja, atau bannya saja, atau setir saja!

Ia bisa disebut mobil karena utuh memiliki semua komponen yang diperlukan. Demikian jugalah dengan makna ulil albab.

Ia bukan hanya orang yang cerdas secara intelektual, namun juga pandai mengelola emosi, dan memiliki kecerdasan spritual dengan bertaqwa pada Allah serta banyak melakukan ibadah amal shaleh.

Pertanyaan terpenting selanjutnya adalah, sudahkah kita masuk dalam golongan “ulil albab” yang telah Allah sebutkan ciri-cirinya tersebut? Semoga Allah mampukan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mau berpikir. (SH)

Baca Juga: Apa yang Bisa Kita Banggakan?

Wakaf Sekarang