SUDAKAH KITA MEMBANGUN PIPA PAHALA?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

pipa pahala wakafKisah berikut ini sudah termahsyur di kalangan para pengusaha ataupun pebisnis baru. Inspirasi dari 2 pemuda bernama Pipo dan Embro.

Pipo dan Embro mendapat tugas membawa air dari sungai pinggir desa, ke tempat penampungan air yang  terletak di tengah desa tersebut, agar bisa dinikmati oleh penduduk. Mereka diupah sesuai banyaknya ember berisi air yang dibawa.

Embro sangat senang, ia mampu membawa bolak-balik 100 ember penuh air setiap harinya. Namun berbeda dengan Pipo, ia menyadari tubuhnya tak akan selalu kuat mengangkut seratus ember dari sungai ke desa setiap hari.

Pipo pun mengurangi pekerjaan mengangkut air dengan ember dan mulai membagi waktu untuk menggali pipa air yang menghubungkan sungai dengan tempat penampungan air di desanya. Meski susah payah, namun ia tetap membangun pipa tersebut.

Singkat cerita, berbulan-bulan kemudian ketika pipa air telah jadi, penduduk desa dapat menikmati air sungai yang mengalir terus-menerus dari pipa ke tempat penampungan air di desa.

Pipo pun tak perlu lagi mengangkut air dari sungai dengan ember, ia bahkan mendapat upah terus-menerus selama air itu masih mengaliri pipa yang dibangunnya dan ia bisa menikmati masa tuanya dengan tenang.

Sahabat, sudahkah kita melakukan hal yang sama seperti Pipo untuk masa depan kita di akhirat kelak? Sudahkah kita membangun ‘pipa pahala’ yang akan terus mengalir walaupun kita tak lagi mampu untuk berbuat kebaikan? Entah karena sakit berat, atau karena maut telah menjemput?

Sesungguhnya Rasulullah telah memberi isyarat mengenai ‘pipa pahala’ ini melalui sabdanya:

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” [HR Muslim no.3084]

Jelas bahwa kita bisa membangun ‘pipa pahala’ dengan petunjuk Rasulullah tersebut:

  1. Shadaqah jariyah

Bentuk shadaqah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia adalah dengan berwakaf. Dan sesuai urutan yang diucapkan Rasulullah dalam haditsnya, tampaknya shadaqah jariyah inilah yang berpotensi untuk mengalirkan pahala luar biasa besarnya!

Kita dapat mewakafkan tanah, bangunan, kendaraan, ataupun benda lainnya yang bisa diambil manfaatnya oleh banyak orang. Selama benda yang diwakafkan tersebut masih dimanfaatkan oleh orang lain, maka selama itu pula pahala kebaikan masih mengalir untuk diri kita.

Bayangkan ketika suatu hari nanti kita sudah tak mampu berbuat baik, bisa jadi karena terkena penyakit parah, atau bahkan meninggal dunia, pahala wakaf ini akan tetap ada, bagaikan pipa yang terus-menerus mengalirkan pahala kebaikan.

Pertanyaannya, sudahkah kita membangun ‘pipa pahala’ berupa wakaf ini?

  1. Ilmu yang bermanfaat

‘Pipa pahala’ selanjutnya adalah ilmu bermanfaat yang disebarluaskan pada orang lain.

“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan pada orang lain, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” [HR Muslim, 3509]

Selama ilmu yang kita ajarkan masih dimanfaatkan oleh orang lain untuk kebaikan, selama itu pula pahala akan terus mengalir pada diri kita.

Sahabat, sudahkah kita membangun ‘pipa pahala’ berupa ilmu yang bermanfaat ini?

  1. Anak shaleh yang mendoakan kedua orangtuanya

Memiliki anak shaleh adalah karunia yang besar, jika kita dapat mendidiknya dengan baik, bahkan setelah kita meninggal pun, doa dan kebaikan dari anak shaleh yang ditujukan untuk orangtuanya akan terus mengalir.

Sahabat, sudahkah kita membangun ‘pipa pahala’ dengan mendidik anak yang shaleh?

Bagaimana pun, manusia memiliki keterbatasan, suatu saat bisa sakit dan meninggal dunia, amatlah disayangkan jika selama hidup kita hanya bersikap seperti Embro yang harus mengangkut ember untuk mendapat upah.

Sungguh, Allah akan senantiasa memberi ‘upah’ atas segala kebaikan yang kita lakukan. ‘Upah’ berkata jujur, ‘upah’ menjauhi uang haram, ‘upah’ menafkahi anak istri, dan ‘upah’ kebaikan lainnya. Puaskah kita dengan upah instan tersebut?

Atau, maukah kita berpikir sejenak menghitung-hitung perbekalan yang kita miliki untuk kehidupan setelah mati? Sebagaimana Pipo yang membangun pipa air, sudahkah kita mengambil langkah untuk membangun ‘pipa pahala’?

Jika belum, semoga kita mau mulai memikirkannya sejak saat ini. Jika belum mampu bershadaqah jariyah dengan berwakaf, maka mulailah dengan menyebar ilmu bermanfaat, atau mendidik anak-anak yang shaleh.

In syaa Allah, kita semua bisa membangun ‘pipa pahala’ sesuai kadar kesanggupan yang Allah berikan. Wallaahualam. (SH)

 

Wakaf Sekarang