Yogyakarta – Warga Dusun Batur, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, kini tak lagi harus berjalan jauh atau merogoh kocek dalam untuk mendapatkan air bersih. Sebuah sumur bor sedalam 115 meter yang dibangun melalui program Wakaf Air untuk Kehidupan “Batur Project” oleh Dompet Dhuafa telah mengalirkan air ke ratusan rumah tangga yang selama bertahun-tahun bergantung pada distribusi air terbatas.
Wilayah Kapanewon Patuk memang dikenal sebagai kawasan dengan tantangan air yang berat. Kondisi geografis yang didominasi tanah karst membuat curah hujan sulit tertampung di permukaan, sementara sumber air alami semakin terbatas seiring musim kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ini memaksa warga Dusun Batur dan Dusun Bobung untuk membeli air dengan harga tinggi demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, mulai dari memasak, mencuci, hingga mandi.
Menjawab persoalan yang terus berulang tersebut, Dompet Dhuafa menginisiasi pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang. Pengeboran dilakukan hingga kedalaman 115 meter, dengan pompa submersible yang dipasang pada kedalaman 80 meter untuk menjangkau sumber air yang stabil sepanjang tahun. Instalasi turut dilengkapi jaringan listrik berdaya 3.500 VA serta pompa berkekuatan 2 HP untuk memastikan distribusi air berjalan lancar dari sumur menuju tampungan, sebelum akhirnya disalurkan ke rumah-rumah warga.
Program ini menyasar 204 kepala keluarga atau sekitar 904 jiwa, yang mayoritas berprofesi sebagai petani, buruh tani, perajin, dan pekerja sektor informal lainnya. Pengelolaan air kini dijalankan secara kolektif oleh warga melalui kelompok Pengelola Air Minum Dusun (PAMDUS), sebuah mekanisme yang diharapkan mendorong kemandirian masyarakat dalam menjaga keberlanjutan layanan air bersih tanpa terus bergantung pada pihak luar.
Baca Juga :
- Sumur Wakaf Dompet Dhuafa Akhiri Krisis Air di Desa Setokok Batam
-
Sumur Bor Mengalir di Gaza, Upaya Redam Krisis Air di Tengah Lonjakan Penyakit
Manfaat program ini dirasakan warga dari berbagai sisi kehidupan. Secara ekonomi, keluarga tak lagi harus menyisihkan pengeluaran besar untuk membeli air, sementara ketersediaan air yang stabil turut membuka peluang aktivitas usaha rumah tangga seperti beternak dan usaha kecil lainnya. Dari sisi kesehatan, akses air bersih yang layak berpotensi menekan penyakit berbasis sanitasi dan higiene seperti diare, sekaligus meringankan beban perempuan, anak-anak, dan lansia yang sebelumnya harus menanggung beban lebih besar dalam mengambil air dari sumber yang jauh.
Program ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Pengelolaan air yang lebih terkontrol melalui skema kolektif dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap sumber air alami yang sebelumnya dieksploitasi secara individual dan tidak teratur.
Dompet Dhuafa menegaskan bahwa keberlangsungan program semacam ini tidak lepas dari dukungan wakaf yang dihimpun dari masyarakat. Melalui dana wakaf, pembangunan infrastruktur air bersih di wilayah-wilayah rawan kekeringan seperti Gunungkidul dapat terus diperluas, memberi harapan baru bagi warga yang selama ini hidup berdampingan dengan keterbatasan air.
Amanah para pewakif telah sampai kepada 204 keluarga di Dusun Batur, mengubah air yang dulu menjadi barang mahal menjadi sumber kehidupan yang mengalir setiap hari.






