Syarat Terpenting Tiap Amalan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Syarat terpenting setiap amalan hanya satu kata

Sahabat,

Betapa banyak amalan yang sia-sia bagai debu tertiup angin hanya karena tak memenuhi syarat terpenting yang harus dipenuhinya. Apakah syarat terpenting tersebut?

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenaNya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

Ya, hanya satu kata saja: ikhlas!

Namun satu kunci ini bisa membawa perbedaan yang jauh. Amalan remeh bisa bernilai besar karenanya, dan sebaliknya amalan besar bisa bernilai remeh tanpanya.

Sebagai contoh, menyingkirkan dahan pohon pun bisa membawa ke surga dengan adanya keikhlasan di hati.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, gugur di medan perang pun bisa menyeret ke neraka jika tidak ikhlas dalam niatnya:

“Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan manusia (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Lalu bagaimana caranya agar amalan kita bernilai ikhlas hanya untuk Allah semata? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagaimana yang dicontohkan oleh para Sahabat dan orang shaleh lainnya:

1. Menyingkirkan nafsu ketika beramal

Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Tidak ada sesuatu pun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan, karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu”

2. Berdoa meminta seluruh amalan shaleh yang dilakukan bernilai ikhlas

Bahkan seorang yang telah dijamin masuk surga sekelas Umar bin Khattab radiyallaahu ‘anhu sekalipun masih berdoa agar amalannya terjauh dari niat selain untuk Allah, “Ya Allah jadikanlah amalku shalih semuanya dan jadikanlah ia ikhlas karena-Mu dan janganlah Engkau jadikan untuk seseorang dari amal itu sedikitpun.”

3. Menyembunyikan amalan

Imam Asy Syafi’i berkata, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

4. Memandang remeh amalan yang kita lakukan

Perhatikan perkataan Sa’d bin Jubair, “Ada seseorang yang masuk surga karena sebuah kemaksiatan yang dilakukannya dan ada yang masuk neraka karena sebuah kebaikan yang dilakukannya.

Seseorang yang melakukan maksiat setelah itu ia takut dan cemas terhadap siksa Allah karena dosanya, kemudian menghadap Allah dan Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya dan seseorang berbuat suatu kebaikan lalu ia senantiasa mengaguminya kemudian ia pun menghadap Allah dengan sikapnya itu maka Allah pun mencampakkannya ke dalam neraka.”

5. Tidak terpengaruh dengan ucapan orang lain tentang amalan kita

Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah engkau melakukan suatu kebaikan karena ingin dipuji oleh orang lain. Dan jangan pula kau meninggalkannya karena rasa malu pada orang lain!” (Adabud Dunya Wad Diin, hlm. 110)

Banyak orang yang lemas seketika jika tak mendapat apresiasi atas kebaikan yang dilakukannya.

“Saya sudah membantunya, tapi dia mengucap terimakasih pun tidak, huh… Lain kali tidak akan saya bantu!”

Atau sebaliknya, menjadi semangat ketika mendapat pujian dari sekitarnya.

Ketika kita masih terpengaruh oleh ucapan orang lain, baik pujian ataupun hinaan, yang membuat amalan kita bertambah atau berkurang, sangat mungkin kita belum sampai pada derajat keikhlasan.

Sahabat,

Ikhlas hanya satu kata, tapi itulah kunci diterimanya amalan kita.

Ikhlas memang hanya satu kata, tapi maknanya begitu dalam sampai-sampai keberadaannya tak bisa teraba oleh panca indera.

Ikhlas hanya satu kata, tapi tanpanya, amalan kita tak ada artinya.

Maka, butuh perjuangan untuk mencapai derajat keikhlasan. Semoga Allah memampukan kita untuk mencapainya. (SH)

Wakaf Sekarang