Tanda-tanda Hubungan yang Baik dengan Allah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Hubungan yang baik dengan allahSahabat, apakah sama orang-orang yang dekat pada direktur sebuah perusahaan dengan orang-orang yang sekadar bekerja dan tahu digaji saja? Tentu berbeda!

Orang-orang terdekat dengan direktur perusahaan kadang kala bisa ikut mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh direktur. Orang-orang seperti ini kapanpun mengalami kesulitan biasanya tak segan untuk mengungkapkan pada direktur, sehingga sang pemimpin perusahaan bisa turut membantu menyelesaikan kesulitannya.

Sedangkan orang-orang yang tak dekat bahkan tak mengenal sama sekali direktur perusahaannya. Sangat mungkin tak berani berharap, jangankan meminta bantuan direktur, terpikirkan untuk minta bantuan pada direktur saja sudah pasti tidak terlintas sama sekali di benak.

Sama juga seperti hubungan kita dengan Allah atau yang biasa disebut dengan istilah hablumminallah. Kedekatan kita pada Allah bisa mempengaruhi banyak hal dalam hidup.

Bagi Sahabat yang penasaran mengapa ada orang yang hidupnya terlihat selalu mudah dan senang-senang saja walau diuji dengan kemiskinan atau penyakit, tetapi ada juga yang hidupnya kelihatan suram meski bergelimang kekayaan, sebenarnya kuncinya ada pada seberapa baik hablumminallah orang tersebut.

Berikut ini beberapa tanda baik atau buruknya hubungan kita dengan Allah:

1. Tidak takut pada dosa, tidak berharap akan pahala

Mengejutkan, salah satu ciri telah baiknya hubungan seseorang dengan Allah adalah tidak adanya pengaruh dosa dan pahala pada dirinya.

Ibaratnya besar kecilnya gaji tidak lagi dipikirkan oleh seorang yang sudah dekat pada direktur perusahaan. Ia percaya bahwa sang direktur takkan menyiakan apa yang telah ia lakukan untuk perusahaan.

Maka yang dipikirkan oleh seorang dengan hablumminallah yang baik adalah bagaimana agar Allah selalu cinta dan tidak marah pada dirinya. Sehingga pahala dan dosa tak lagi diperhitungkan saking percayanya bahwa Allah Maha Adil dan Maha Membalas segala sesuatu dengan sesuai:

“Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak [takut pula] akan penambahan dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jinn :13)

Lalu, sudahkah kita memiliki hubungan dekat dengan Allah sehingga tak lagi peduli pada pahala dan dosa melainkan senantiasa berharap keridhoanNya semata?

2. Selalu berprasangka baik dan mengingat Allah dalam setiap kondisi

Seseorang yang hubungannya dengan Allah sudah begitu baik akan senantiasa berprasangka baik apapun yang Allah beri padanya. Itu sebabnya hidupnya yang penuh ujian musibah sekalipun terasa mudah saja, ia tak menganggap itu sebagai musibah melainkan kasih sayang Allah memberikan sarana mendekatkan diri padaNya.

Demikian juga, orang yang baik hablumminallahnya sudah pasti akan mengait-ngaitkan Allah dengan apapun kondisi dalam hidupnya. “Semua karena Allah, hidup mati karena Allah. Semua terserah Allah.” Ia akan senantiasa mengingat Allah baik di kala sendiri ataupun di tengah keramaian.

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku. Aku bersamanya setiap kali ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku ketika ia sendirian, maka Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kelompok, niscaya Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka.” (Hadist Qudsi)

3. Memiliki hubungan baik dengan kebanyakan manusia

Adalah hal mustahil seseorang yang baik hubungan dengan Allah namun perilakunya dibenci seluruh manusia. Lihatlah Rasulullah! Beliau dicintai kawan dan disegani lawan karena kemuliaan akhlaknya. Demikian juga jika kita mengaku cinta dan dekat dengan Allah, sudah pasti kita meniru akhlak Rasulullah dalam memperlakukan manusia.

Bayangkan… Dengan orang kafir sekalipun Rasulullah begitu baik dalam membina hubungan. Meskipun dihina, namun Rasulullah tetap merawat sepenuh hati ketika seorang Yahudi buta yang biasa memakinya jatuh sakit.

”Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata yang baik “ (QS. Al-Furqan:63)

Jelas bahwa orang yang tinggi hati, merasa surga telah menjadi haknya, merasa pantas ditinggikan di hadapan manusia dan berhak menyebut orang lain kafir atau munafik bukanlah ciri-ciri hamba yang dekat dengan Rabbnya. Sekalipun di hadapan manusia mereka dianggap ulama.

Sahabat, semoga Allah senantiasa memberikan kita hati yang mengharap ridhoNya semata. Bukan hitung-hitungan pahala-dosa, apalagi sekadar harap-harap cemas surga-neraka. Nikmat mencintaiNya sungguh melampaui kenikmatan apapun yang ada, mudah-mudahan kita senantiasa diberi kesadaran atas hal ini. Aamiin. (SH)

Info Wakaf > Call Center: +62 21 741 6050 | SMS Center: +62 812 80 360 688 | PIN BBM: 28.739.E76

Tunaikan Wakaf anda melalui:

BCA 101.000.662.6699
BNI Syariah  009.153.8995
MANDIRI  101.000.662.6699

Muamalat 304.003.1667
a/n Yayasan Dompet Dhuafa

Wakaf Sekarang