Tenangkan Hati dengan Bersedekah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

bersedekah bisa membawa ketenangan hatiSahabat, tahukah bahwa bersedekah bisa membawa ketenangan hati, namun bisa juga malah membawa keresahan.

Bagaimana mungkin sedekah justru membawa keresahan? Ya, jika dilakukan dengan tidak tepat, sedekah justru bisa melahirkan keresahan dan kekacauan. Oleh sebab itu, penting sekali kita memastikan sedekah yang kita keluarkan dilakukan dengan tepat.

Berikut ini syarat mutlak sedekah yang dapat membawa ketenangan hati:

1. Sedekah dengan mengetahui ilmunya

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383)

Sahabat, sebelum membabi buta mengikuti sedekah 100% yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu prioritas sedekah, karena sesungguhnya Rasulullah telah memberitahukan kita bagaimana sedekah yang terbaik itu.

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, pahala yang paling besar adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (HR Muslim, Ahmad, dan Baihaqi).

Lihatlah betapa tingginya posisi bersedekah pada keluarga sendiri! Oleh sebab itu, jika kita memiliki istri dan anak, penghasilan kita katakanlah hanya ada lima juta rupiah, maka pertama-tama prioritaskan untuk menanggung kebutuhan harian istri dan anak terlebih dahulu. Selanjutnya penuhi kebutuhan orangtua dan mertua, selanjutnya penuhi kebutuhan kerabat dekat yang membutuhkan.

Jika penghasilan kita melampaui kebutuhan seluruh keluarga dan kerabat, barulah kita bisa bersedekah untuk pihak luar yang juga memerlukan semisal anak yatim dan kaum dhuafa. Karena bagaimanapun, kita berkewajiban memenuhi nafkah terhadap orang-orang yang menjadi tanggungan kita terlebih dahulu.

“Apa yang engkau berikan untuk makan dirimu sendiri, apa yang engkau berikan untuk makan anakmu, apa yang engkau berikan untuk makan orang tuamu, apa yang engkau berikan untuk makan isterimu, apa yang engkau berikan untuk makan pelayanmu, maka semua adalah sedekah bagimu.” (HR Ibnu Majah)

Jika kita tak mengerti prioritas sedekah karena tak memiliki ilmunya, tentu akan terjadi kekacauan dan bukannya ketenangan.

Zainab menghadap Rasulullah dan ingin bersedekah, namun Ibu Mas’ud (suaminya) dan anaknya menganggap diri mereka lebih berhak mendapat sedekahnya, maka Rasulullah bersabda : “Benar Ibnu Mas’ud, suami dan anakmu adalah orang yang lebih berhak engkau beri sedekah.”(HR. Bukhari)

Bukankah banyak orang yang bersedekah namun keliru prioritas? Keluarganya sendiri masih kekurangan makan namun ia sudah bersedekah untuk orang lain. Diri kita dan keluarga kita tidaklah sama dengan keluarga Rasulullah yang tak memiliki hasrat pada makanan, minuman dan hal duniawi yanh berlebihan. Oleh sebab itu jangan sampai terjadi ‘pertengkaran’ hanya karena kita tidak memiliki ilmu mengenai prioritas sedekah.

Rasulullah bersabda, “Bersedekahlah olehmu sekalian”, seorang lelaki berkata : Wahai Rasul, aku memiliki satu dinar? Rasul menjawab: “sedekahkan untuk dirimu”, lelaki itu berkata: Aku memiliki yang lain?, Rasul bersabda : “sedekahkanlah kepada anakmu”, lelaki itu berkata lagi : Aku memiliki yang lain?, Rasul bersabda : “Sedekahkan untuk istrimu”, lelaki itu berkata lagi : Aku memiliki yang lain?, Rasul bersabda : “sedekahkanlah kepada pembantumu”, lelaki itu berkata lagi : Aku memiliki yang lain?, rasul bersabda : “Sedekahkan untuk engkau lebih mengerti tentang itu” (HR. Abu Dawud, Nasa’i).

2. Sedekah tanpa mengharap imbalan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7)

Sahabat, selain memiliki ilmu, kita juga perlu memastikan keikhlasan dalam bersedekah.

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihatJami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).

Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas in syaa Allah membawa ketenangan. Namun sedekah yang dikeluarkan dengan harapan akan mendapat ganti berkali-kali lipat, maka tentu saja akan membawa kekhawatiran kalau-kalau sedekah tersebut tak tergantikan. Kita tak sadar bahwa kesehatan, keselamatan dari kecelakaan, terhindar dari kematian yang buruk, juga merupakan efek sedekah yang sering tidak diperhitungkan.

Maka ikhlaskan setiap sedekah yang kita keluarkan, jangan mengharap imbalan apapun baik dari manusia maupun dari Allah. Percayakan bahwa Allah Maha Teliti dalam menghitung setiap amalan Kita, Ia tidak akan menyia-nyiakan amalan yang kita lakukan dengan ikhlas.

3. Sedekah rahasia

Selanjutnya sedekah yang membawa ketenangan adalah sedekah yang dilakukan secara rahasia atau sembunyi-sembunyi.

Bersedekah dengan diketahui orang lain memang tak mengapa, namun potensi amalan tersebut dirusak oleh riya’ alias keinginan pamer dan pencitraan sangatlah tinggi.

Sedangkan sedekah yang dilakukan diam-diam tanpa diketahui oleh orang lain lebih dapat membawa ketenangan dan kebahagiaan untuk diri kita sendiri.

Maka, mari evaluasi… apakah selama ini sedekah yang kita lakukan telah membawa ketenangan hati? Wallahualam. (SH)

Baca Juga: Sedekah Sedikit pun Bisa Menjadi Bukit

Wakaf Sekarang