Tes Kejujuran

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tes KejujuranSahabat, apakah kita bisa lolos dalam tes kejujuran? Sebagaimana kisah seorang muslimah sholiha yang tidak terpengaruh dengan bujuk rayu ibundanya sendiri untuk berbohong.

Kisah ini terjadi di masa Umar bin Khattab, di mana sebuah kejujuran dapat melahirkan generasi emas. Mari kita simak kembali kisahnya.

Suatu malam menjelang dini hari, khalifah Umar bin Khattab melakukan inspeksi ke pinggiran kota. Sebagaimana biasa, beliau ingin memeriksa sendiri kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Tak sengaja, beliau mendengar percakapan dua orang wanita, seorang ibu dan anak gadisnya.
“Mengapa kau tak mau? Campur saja dengan air agar kita untung lebih banyak!” suara wanita paruh baya itu terdengar tegas.
“Bagaimana saya bisa melakukannya sedangkan Amirul Mukminin telah mengeluarkan peraturan yang melarang mencampur susu dengan air?” suara gadis muda itu terdengar lirih.

“Khalifah Umar tidak akan mengetahuinya, bagaimana mungkin ia tahu apa yang kita berdua lakukan? Ia tidak melihat kita.” seru wanita paruh baya itu lagi.
“Jika khalifah Umar tidak mengetahuinya karena ia tidak melihat kita, bagaimana dengan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat Bu?”

Hati Umar terhenyak mendengar percakapan tersebut. Sungguh sebuah sikap takut pada Allah yang melahirkan perbuatan jujur.
Keesokan harinya ia meminta seorang pengawal menyelidiki ibu dan anak itu, untuk memastikan sesuatu tentang keduanya.

Setelah itu, Umar memanggil putranya yang bernama ‘Aashim dan berpesan padanya untuk menemui seorang gadis yang kejujurannya amat menyentuh kalbu Umar.

“Pergilah wahai anakku! Lihatlah gadis itu, nikahilah dia, dan aku berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mampu memimpin bangsa Arab.”

Pernikahan antara sang putra Khalifah dengan gadis yang menjunjung tinggi sikap jujur itu pun benar-benar berlangsung.
Sahabat, tahukah bahwa dari pernikahan keduanya kemudian lahirlah seorang anak perempuan bernama Layla binti ‘Aashim, yang kemudian dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan.

Kemudian, dari pernikahan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah Umayyah kelima yang sangat adil. Semuanya berawal dari sikap jujur yang melahirkan generasi emas.

Lalu bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita jujur dari dalam hati, juga lisan, dan bahkan mengutamakan kejujuran dalam menyikapi segala sesuatu?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong).’” (HR Ahmad)

Kejujuran bukan cuma perbuatan lisan, tetapi juga pekerjaan hati dan tingkah laku. Banyak orang yang lisannya jujur namun perbuatannya tidak, masih suka mengambil hak orang lain, masih bisa mencuri-curi berbuat curang. Inilah yang perlu kita perhatikan pada diri sendiri, apakah sudah berlaku jujur dengan sebenar-benarnya?

Semoga kisah di atas menjadi refleksi diri kita untuk selalu bersikap jujur karena menyadari Allah Maha Melihat. (SH)

Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Bersifat Jujur

Wakaf Sekarang