Urip Budiarto: Tabung Wakaf Tetap Fokus di Program Produktif

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Sesuai perkembangan pemahaman yang lebih maju tentang wakaf, Tabung Wakaf Iindonesia (TWI) mulai menata kembali manajemen, dan program-program yang akan digarap. Prinsip “menahan pokok dan memanfaatkan buahnya” menjadi pegangan utama dalam pengelolaan wakaf

Estafeta kepemimpinan manajerial TWI telah empat bulan ini  diserahkan ke Urip Budiarto. Perpindahan ini sebagai bagian dari upaya Dompet Dhuafa (DD) menjawab dinamika internal organisasi yang membutuhkan personil-personil yang kompeten, disamping perluasan organisasi. Direktur TWI sebelumnya, Veldy V. Armita, dengan latar-belakang profesi dokternya kini  menjabat Manajer Umum Program Kesehatan DD.

TWI ke depan tetap akan berfokus pada program-program produktif. Penunjukkan Urip sebagai direktur TWI terkait dengan fokus TWI tersebut. “ Secara kompetensi insya Allah saya memahami, bahwa TWI akan dikembangkan sebagai entitas DD yang mengelola wakaf produktif secara luas. Pengembangan aset-aset wakaf ini membutuhkan kemampuan menggalang, terutama, wakaf tunai,” ungkap Urip kepada Tabungwakaf.com.

Menilik latar-belakang Urip, penempatan pria kelahiran Jakarta, 6 Juli 1980, di TWI niscaya sudah tepat. Dia lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Sosial Ekonomi Pertanian tahun 2003. Selain itu, dia pernah mengasah pengalaman sebagai Sales Manager AXA Mandiri selama tiga tahun (2002-2006), menduduki posisi Branch Manager Bank Danamon dan divisi Sales Smart Telecom. Soal urusan wakaf pun, Urip tak asing-asing amat. Di Rumah Sehat Terpadu, Urip pernah mendapat amanah sebagai manajer fundraising wakaf selama setahun.

Untuk jabatan dua tahun ke depan (2011-2013), Urip Budiarto akan berfokus bagaimana menjadikan TWI sebagai lembaga wakaf produktif terpercaya dan terdepan dalam pengelolaan wakaf di Indonesia.

Ada setidaknya empat bidang yang fokus akan digarap. Pertama, optimalisasi surplus yang sudah ada dan meningkatkan manfaat sebesar-besarnya untuk mauquf alaih. Kedua, investasi di bidang-bidang usaha ekonomi produktif yang prospektif untuk menghasilkan surplus wakaf sebesar mungkin. Ketiga, pemeliharaan asset-aset yang sudah ada. Keempat, mengembangkan kemampuan bisnis-sosial yang produktif dan bisa mengembangkan aset-aset produktif yang ada.

Untuk mewujudkan itu, ada dua hal yang perlu didorong secara lebih intensif. Secara internal, TWI perlu pengembangan SDM yang memiliki mindset bisnis sekaligus mindset fundraising yang memadai. Sedangkan secara eksternal, perlu ada edukasi secara kontinyu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wakaf. “ Pemahaman masyarakat terhadap wakaf belum sepopuler zakat dan sedekah.” ungkap Urip.

Untuk program produktif, selain membuat program-program baru, Urip juga tetap akan meneruskan program-program yang sudah mulai dirintis direktur sebelumnya. Diantaranya, pembangunan lapangan futsal, pembangunan 20 kontrakan di atas tanah wakaf Cileduk, dan proyek lapangan futsal dan badminton di Bintaro. “ Proyek-proyek itu mungkin agak lama penggarapannya karena membutuhkan biaya besar,” kata Urip.

Salah satu program produktif yang cukup menguntungkan saat ini adalah wakaf saham. Walau masih ada riak-riak perdebatan tentang keabsahan syariah soal wakaf saham ini, TWI tetap melangkah maju. Prinsipnya, “ Kalau secara pribadi, bagi saya, mana yang bisa memberi esensi manfaat jelas kepada kaum yang berhak, kenapa tidak dioptimalkan. Apalagi soal wakaf saham ini sudah ada fatwa Dewan Syariah mengenai kaidah-kaidah pengelolaan saham syariah yang baik. Orientasinya pertumbuhan aset saham dan peningkatan deviden sebagai surplus. Surplus berupa deviden inilah yang bisa kita salurkan kepada mereka yang berhak melalui program-program sosial,” pungkasnya.(ap)*

Wakaf Sekarang