Waspadai Sifat Munafik dalam Diri

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

sifat munafik“Sesungguhnya orang-orang munafik itu tempatnya di keraknya neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)

Sahabat, pernahkah melihat kerak nasi? Biasanya letaknya ada di bagian paling bawah tempat menanak nasi. Karena terlalu panas, nasi yang berada paling bawah ini kemudian mengeras dan menjadi kerak dengan warna yang menghitam. Demikianlah gambaran tempat orang munafik kelak di neraka, mereka berada di bagian paling bawah, paling panas di dasar neraka. Na’udzubillah.

Oleh sebab itu, jangan sekali-kali meremehkan sifat munafik yang bisa jadi ada dalam tiap diri kita! Khawatir amalan shaleh yang kita lakukan menjadi percuma apabila ada sifat munafik menghiasi hati.

Apalah artinya shalat yang dilakukan atas dasar kemunafikan? Atau, sedekah yang dikeluarkan hanya sebagai kamuflase untuk menutupi sifat munafik dalam diri?

Sahabat, berikut ini ciri kemunafikan yang perlu kita tanggalkan dan tinggalkan:

“Ada 4 hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafik sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Jika dipercaya ia berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika berdebat ia melampaui batas.” (HR. Bukhari nomor 34 dan Muslim nomor 58).

1. Jika diberi kepercayaan, berkhianat

Betapa berat sebuah amanah atau kepercayaan yang dititipkan ke pundak kita. Entah itu berupa jabatan, harta, bahkan juga anak, semuanya harus dijaga dengan baik karena suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban.

Banyak orang yang menyia-nyiakan amanah tanpa sadar, misalnya ketika diamanahi seorang anak namun tak diberi nama yang baik, tak diajarkan membaca dan tadabur alquran, tak dididik dengan akhlak mulia, bahkan yang terparah… anak disakiti, dihinakan, diabaikan, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan. Tak sadarkah kita dengan berlaku seperti ini berarti sudah menyimpan sifat munafik dalam diri?

Atau, amanah berupa jabatan. Banyak yang justru menggunakan posisi dan wewenang kekuasaannya untuk mengeruk keuntungan diri sebesar-besarnya. Menjadi aparat hukum justru untuk menguras harta rakyat kecil, menjadi abdi masyarakat justru mengharap imbalan upah atas segala bantuan yang diberikan, meski itu sudah menjadi tugasnya.

Khianat terhadap amanah ini sungguh berat hukumannya. Akan tetapi banyak yang menganggapnya ringan, lalu membasuh dosa-dosa dengan berderma. Padahal Allah menilai apa yang ada di balik hati kita, dan tak menerima sesuatu melainkan kebaikan.

2. Jika berbicara, malah berdusta

Ciri kemunafikan selanjutnya adalah dusta dalam perkataan. Ada orang yang tak bisa tepat dalam berkata-kata, selalu melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan sesuatu dari kondisi sebenarnya, tergantung apa yang bisa menjadi keuntungan dirinya.

Masalahnya, sifat dusta sama seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Sekali kita berdusta, maka akan menjadi kebiasaan dan Allah akan mencap kita sebagai seorang pendusta. Sedangkan jelas bahwa seorang mukmin tak mungkin bisa mengucapkan kedustaan, dengan demikian… Berdusta merupakan bukti bahwa tidak ada keimanan dalam hati kita.

“Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim)

3. Jika berjanji, mengingkari

Mengucap janji sangat mudah, namun menepati janji yang telah dibuat hanya dimiliki oleh seorang yang berkarakter ksatria. Banyak orang munafik memberi janji-janji agar tampak jumawa, namun dalam realisasinya nol besar, janji tinggallah janji.

Sahabat, bahkan janji yang kita ucapkan pada seorang anak kecil pun adalah sebuah utang yang harus dibayar dan tak boleh diabaikan! Oleh sebab itu, jangan pernah berjanji jika tahu tak bisa menepatinya.

Sebenarnya orang yang tak bisa menepati janjinya menunjukkan beberapa hal, yakni:
– Ketidakbecusan mengukur kemampuan diri
– Meremehkan kepercayaan orang lain terhadap janjinya
– Seorang munafik sejati

Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 34)

4. Jika berdebat, melampaui batas

“Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu.” (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani)

Hobi berdebat merupakan ciri selanjutnya sifat kemunafikan, seorang mukmin meskipun benar akan berusaha sebisa-bisanya menahan diri serta perkataannya dari perdebatan yang sia-sia. Akan tetapi, orang yang memiliki bakat kemunafikan… Biasanya senang berdebat karena kepandaiannya bersilat lidah, serta tak pernah mau mengalah ketika ‘bertengkar’.

“Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah.” (HR. Ahmad)

Sahabat, jauhilah perdebatan kecuali jika memang sedang berada dalam lomba debat, itu pun perlu dihindari sebisa-bisanya. Karena jika ilmu yang didapatkan malah dipakai untuk berdebat, kecelakaanlah bagi diri kita, neraka menjadi tempat kembali setelah kematian.

“Janganlah kalian mencari ilmu untuk menandingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar bisa menguasai pertemuan dan majelis-majelis.  Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka neraka baginya, neraka baginya.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan Al Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini Shahih dengan para periwayat yang terpercaya sesuai dengan syarat-syarat Imam Muslim)

Demikianlah 4 sifat munafik yang harus kita hindari agar amalan yang kita lakukan tidak sia-sia. Sadari bahwa sifat munafik jauh lebih buruk daripada kekafiran, disebabkan kemunafikan itu tersembunyi dan tersamarkan.

Kita bisa saja merasa diri baik dan telah banyak melakukan amal shaleh, padahal kita termasuk golongan orang yang bangkrut, karena amalan yang kita lakukan tak ada artinya di hadapan Allah. Na’udzubillah min dzalik. (SH)

Wakaf Sekarang