Giatkan Wake Up! Wakaf, Dompet Dhuafa Bersinergi dengan Blogger

Blogger se-Jabodetabek melakukan safari RS Rumah Sehat Dompet Dhuafa di Parung Bogor dalam kegiatan Blogger Meet Up: Waqf Productive Sharing Session and Visit yang diadakan Dompet Dhuafa (2/10). (Tabung Wakaf/Mutia Rabbani Hanifah)

 

TABUNG WAKAF – 52 Blogger se-Jabodetabek hadir dalam Blogger Meet Up: Waqf Productive Sharing Session and Visit di Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor (2/10). Dompet Dhuafa mengundang Blogger sebagai bagian dari sosialisasi wakaf dalam program “Wake Up! Wakaf” yang bersinergi dengan zakat, infak, dan sedekah.

Blogger diperkenalkan dengan gerakan terbaru dari Dompet Dhuafa yakni “Wake Up! Wakaf”. Kegiatan ini sebagai upaya penyebaran informasi wakaf dan manfaatnya bagi kaum milenial melalui literasi media blog.

Bobby P. Manullang, General Manager Mobilisasi Wakaf Dompet Dhuafa mengungkapkan, bahwa wakaf di Indonesia masih tertidur. Masyarakat di Indonesia masih terperangkap dalam tiga mindset mengenai wakaf. Pertama, wakaf adalah ibadah yang hanya untuk orang kaya. Kedua, wakaf ditunaikan dalam bilangan yang besar.

“Dari dua mindset yang terbentuk itu, muncul mindset ketiga. Yang mengukuhkan orang untuk menunda wakaf. Wakaf nanti aja lah, tunaikan yang wajib-wajib dulu,” ujar Bobby.

Padahal, Dompet Dhuafa sudah memiliki Gerakan Sejuta Wakif yang menggerakan masyarakat dalam segala lapisannya untuk berwakaf. Dimulai dari Rp10.000,- dan akan menjadi 10 miliar jika dilakukan oleh sejuta orang.

Ia menambahkan kembali, wakaf masih memiliki gap antara pertumbuhan aset dengan pertumbuhan wakaf tunai. Banyak aset yang dimiliki namun tidak memiliki dana untuk membangun dan memproduktifkannya.

Dalam presentasinya, ia menampilkan gambar dinosaurus berjenis tyrex yang disandingkan dengan gajah dan singa si raja hutan. Ketua Forum Wakaf Produktif ini bertanya, “Tyrex dan Gajah atau Singa dilawan, siapa yang akan menang?”.

Blogger menjawab Tyrex yang akan menang. Kemudian Bobby menjelaskan bahwa Wakaf mirip seperti perumpamaan itu, ada di posisi survival of the fittest.

“Wakaf itu seperti Tyrex. Kuat tapi tidak bisa bersaing dengan alam. Maka kita hidupkan wakaf kembali melalui pendekatan untuk kaum milenial melalui Wake Up! Wakaf,” lanjutnya.

Menurutnya, milenial memiliki rasa sensitif yang tinggi terhadap isu kemanusiaan. Wakaf tentu bisa menyasar milenial melalui testimoni penerima manfaat. Salah satu contohnya adalah penderita katarak yang sembuh berkat perawatan dari rumah sakit wakaf.

Yuli Pujihardi, Direktur Mobilisasi Zakat Infak Sedekah Dompet Dhuafa, dalam sambutannya juga mengharapkan capaian yang baik dari hadirnya para Blogger. Sebuah tulisan dari Blogger yang akan disebarkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi tentang wakaf.

Nanti teman-teman Blogger juga akan diajak untuk melihat program-program Dompet Dhuafa di kawasan Zona Madina,” ujarnya.

Dibagi dalam tiga kelompok, Blogger akan diajak berkeliling ke beberapa aset wakaf yang bersinergi dengan zakat, infak dan sedekah. Beberapa lokasi diantaranya Sekolah SMART Ekselensia Dompet Dhuafa, Masjid Al-Madinah, Kawasan Wisata D’Jampang, dan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa.

Kunjungan Blogger di beberapa program Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) bukanlah untuk pertama kalinya. Banyak diantara Blogger yang telah mengikuti jalannya program Dompet Dhuafa. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas sebaran informasi dari berbagai kanal komunikasi, salah satunya media blog. (Tabung Wakaf/Mutia Rabbani Hanifah)

Wakaf Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook

Instagram