Kita Perlu Rasa Sakit

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

rasa sakit“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim)

Sahabat, pernahkah merutuki rasa sakit? Mulai dari sakit kepala, sakit gigi, sakit karena terjatuh, sakit karena terluka, atau bahkan sakit hati karena kecewa, sakit karena dikhianati, sakit karena kegagalan? Jika pernah, semestinya kita tak merutukinya, justru perlu mensyukuri rasa sakit karena sesungguhnya kita memerlukan rasa sakit tersebut untuk bertahan hidup.

Pernahkah mendengar penyakit langka Congenital Insentivity to Pain with Anhidrosis (CIPA)? Yaitu gangguan yang mempengaruhi perjalanan sinyal dari sistem saraf pusat, sehingga menyebabkan penderitanya tak bisa merasakan sakit sama sekali. Apakah kita berpikir bahwa tidak memiliki rasa sakit adalah hal yang menyenangkan? Pikir sekali lagi!

Seorang anak perempuan yang menderita CIPA membuat orangtuanya sangat ketakutan, di usia bayi saat giginya tumbuh, anak ini menggigiti jari-jemarinya sendiri hingga berdarah-darah tanpa merasakan apapun. Akhirnya gigi-giginya pun dicabut agar tak lagi melukai diri sendiri.

Anak ini juga menaruh suatu gel ke kornea matanya tanpa kesakitan, dan terus-menerus menggosok matanya hingga akhirnya penglihatannya rusak.

Orangtua lainnya yang juga memiliki anak penderita CIPA merasa ngeri melihat putra mereka menjatuhkan diri ke tanah atau menghempaskan wajahnya ke atas meja tanpa merasa sakit bahkan terlihat menikmatinya.

Walhasil, ketika tulang-belulangnya mengalami patah, atau tangannya tercelup ke dalam segelas kopi yang masih mendidih, sementara orangtuanya merasa takut dan menderita karenanya, sang anak tak bisa memahaminya karena ia tak bisa merasakan apa yang disebut sakit.

Sahabat, jelas bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang kita perlukan, berikut ini beberapa kegunaan rasa sakit yang harus sering kita sadari agar tak banyak mengeluh ketika memperoleh ujian berupa kesakitan:

1. Rasa sakit bisa membuat kita lebih waspada, lebih berhati-hati dalam menjaga diri

Karena takut merasa sakit, kita akan lebih berhati-hati dalam menjaga diri, dan jika salah satu anggota tubuh kesakitan, sudah pasti bagian tubuh lainnya akan merespon agar kesakitan tersebut segera ditangani.

Lihatlah tubuh kita yang utuh saat ini! Sangat mungkin terjadi karena kita mengenal rasa sakit. Karena tak mau kesakitan, kita berhati-hati agar tidak terlibat kecelakaan di jalan, juga membuat kita memilah-milah hanya makanan terbaik yang dikonsumsi agar tubuh tidak mengalami gangguan pencernaan.

Demikian juga untuk rasa sakit yang bersifat batiniah, karena kita tak ingin hati tersakiti kedua kalinya akibat pengkhianatan, kita akan lebih waspada dalam memilih orang kepercayaan. Karena tak ingin hati sakit akibat dikecewakan, kita akan menyandarkan diri hanya pada Allah saja dan bukannya pada manusia yang memang sudah pasti mengecewakan.

Bersyukurlah atas rasa sakit yang pernah kita alami karena darinya kita bisa banyak belajar untuk tidak terperosok pada kesalahan yang sama.

2. Rasa sakit membawa pahala kebaikan yang luar biasa besarnya yang tidak diperoleh orang-orang yang jarang merasakan sakit

Yang lebih luar biasa, kelak di hari kiamat akan ada banyak manusia yang menginginkan kulitnya digunting-gunting ketika di dunia demi merasakan apa yang disebut sakit, agar bisa memperoleh pahala besar yang hanya didapatkan oleh orang-orang yang Allah timpakan rasa sakit atas mereka.

Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” (HR. Baihaqi)

3. Rasa sakit bisa membawa kita pada taubat

Bagi yang sedang mengalami rasa sakit, cobalah meresapi rasa sakit itu sebagai pembelajaran. Sadari bahwa kebanyakan rasa sakit timbul karena kesalahan kita sendiri, mungkin karena salah makan, salah gaya hidup, salah pergaulan.

Oleh sebab itu, jadikan rasa sakit sebagai momentum tepat untuk bertaubat, yakni menyesali segala kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa : 79)

Betapa banyak manusia yang bertaubat kembali pada jalan Allah setelah diuji oleh penyakit.

Sahabat, mudah-mudahan Allah menghapus kesalahan, menggugurkan dosa-dosa, serta memberi banyak kesadaran dan pahala kebaikan atas segala rasa sakit yang Ia timpakan dalam hidup kita.

Semoga kita bisa menjadi hamba Allah yang menyadari perlunya rasa sakit, dan juga paham bahwa kebanyakan rasa sakit datangnya akibat kesalahan yang kita lakukan sendiri, sehingga hal ini akan mengintrospeksi diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. (SH)

Wakaf Sekarang