Memandang Kehidupan dengan Kacamata Akhirat

kacamata akhirat
Foto: Based Photo by pexels.com

Sahabat, sudahkah kita bisa memandang segala sesuatu dengan menggunakan kacamata akhirat? Karena sering kali kacamata dunia sangat jauh berbeda dengan  kacamata akhirat.

Lewat kacamata dunia, kita akan melihat kesuksesan sebagai kekayaan, jabatan tinggi, rumah mewah, kendaraan roda empat, dan ukuran materi lainnya.

Namun dengan menggunakan kacamata akhirat, tentu saja segala materi yang disebutkan di atas sama sekali bukanlah simbol kesuksesan, melainkan ujian.

Apa yang dimaksud dengan kacamata akhirat? Sebenarnya ini hanyalah istilah saja, yakni melihat segala persoalan melalui perspektif akhirat.

Mengapa kita perlu menggunakan kacamata akhirat untuk mengarungi kehidupan di dunia ini? Tak cukupkah hanya mengenakan kacamata dunia saja?

Setidaknya ada 2 alasan mengapa kita perlu senantiasa memandang segala kejadian, persoalan, dan memutuskan semua perkara melalui kacamata akhirat:

1. Tidak tertipu dengan dunia

Segala ukuran duniawi sebenarnya tidak bernilai jika dibandingkan dengan ukuran akhirat, oleh sebab itu, amat bodoh orang yang mengukur segala sesuatu hanya dengan ukuran keduniaan.

“Rasulullah bersabda: “Tidaklah (berarti) dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seorang di antara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali (yakni) seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu, jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya.” (HR. Muslim)

Contoh, ada orang yang menganggap kasih sayang Allah pada diri manusia ditandai dengan nikmat-nikmat yang Allah beri, berupa wajah rupawan, popularitas, kemudahan menghasilkan uang, kesehatan, dan nikmat lainnya.

Dalam kacamata dunia, sangat mungkin anggapan ini tampak benar, tapi dalam kacamata akhirat bisa jadi anggapan ini keliru besar.

Oleh sebab itu, penting bagi kita melihat setiap persoalan melalui kacamata akhirat, agar tidak terperdaya. Karena boleh jadi, ketika kita menganggap diri kita disayang Allah, disebabkan segala nikmat yang kita terima dari-Nya.

Ternyata Allah justru murka pada diri kita, karena nikmat yang Ia berikan begitu melimpah, namun ibadah yang kita lakukan untuk membuktikan kesyukuran padaNya malah nihil. Ini artinya kita telah terperdaya oleh kenikmatan tersebut.

Baca juga:

Unik, Kebun Ini JAdi Satu-Satunya Aset Wakaf Produktif Berjangka Dompet Dhuafa

Katalog Wakaf Segera Terbit di Semua Booth

Dompet Dhuafa Kunjungi Lahan Produktif Tebu Ireng

Lagipula kenyataannya, ukuran kasih sayang Allah pada hambaNya sama sekali tidak berhubungan dengan nikmat-nikmat berupa materi, melainkan pada apa yang diterima oleh hati hambaNya tersebut.

Kasih sayang Allah pada seorang hamba biasanya diberiNya dalam bentuk kesabaran, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada orang miskin, kecintaan pada berbuat adil, juga akhlak yang lembut dan dermawan.

Jika kita menemukan diri kita memiliki nilai-nilai tersebut, barulah kita boleh bersyukur, kemungkinan besar Allah cinta pada kita.

Bukankah dengan memakai kacamata akhirat, membuat kita lebih mudah melihat apakah diri kita sedang terperdaya oleh dunia ini atau tidak?

2. Bisa lebih mudah menerima ketentuan Allah yang buruk, dan lebih sabar ketika menerima ketentuan Allah yang menyenangkan

Apa yang menurut kita baik belum tentu baik, sebaliknya apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk. Tergantung dengan kacamata apa kita memandangnya.

Jika kita mendapat jabatan tinggi di sebuah perusahaan, dalam kacamata dunia kita akan melihat hal tersebut adalah kesuksesan yang disebabkan kepintaran dan kemampuan kita sendiri, namun coba pakailah kacamata akhirat, kita akan menyadari bahwa jabatan tinggi artinya amanah besar yang harus bisa dipertanggungjawabkan suatu saat kelak.

Jika kita tertimpa penyakit, dalam kacamata dunia kita akan menganggapnya sebagai hal yang sial, akan tetapi kalau kita bersedia menanggalkan kacamata dunia dan melihat melalui kacamata akhirat, tentu kita akan bahagia menerima penyakit yang ternyata dapat menghapus dosa-dosa, dan mungkin menjadi penyebab ridho Allah pada diri kita.

Menggunakan kacamata akhirat, kita akan belajar proporsional menyikapi ujian kesenangan maupun kesedihan.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sahabat, semoga kita dimudahkan Allah untuk memandang segala persoalan dengan menggunakan kacamata akhirat. Dengan demikian, hidup kita akan lebih sederhana dan mudah diarungi. Wallahualam (SH)

Ketika segala sesuatu telah dipandang dengan kacamata akhirat, maka amalan yang hanya kita perhatikan. Jika semua umat peduli dengan amalan, upaya mensejahterakan insan yang lain semakin terealisasi.

Mari bersama jadikan yang miskin semakin berdaya dengan ber-Wakaf melalui Rekening Wakaf Produktif a/n Yayasan Dompet Dhuafa Republika:

Bank BII Syariah 2.700.001.382

Bank BNI Syariah 009.153.8995

Bank Mega Syariah Indonesia 100-000-0536

Bank Syariah Mandiri 7.000.493.133

BCA 237.304.8887

Bank Muamalat 0000.37.3423

Bank mandiri 101.000.662.669

 

atau Donasi via Online klik -> http://bit.ly/2qQBPpe

Lihat program wakaf di www.tabungwakaf.com

(Info: 021-7416050 – WA: 0812 1292 528)


2 thoughts on “Memandang Kehidupan dengan Kacamata Akhirat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *