Hilangkan Kebencian pada Sesama

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

seseorang yang akan dijamin masuk surgaSahabat, apakah ada orang yang amat dibenci? Kebencian itu membuat diri senantiasa emosi bahkan hanya dengan membayangkannya saja, apalagi jika bertatap muka dan mendengarnya berkata-kata.

Mari kita perlahan menghilangkan kebencian dalam hati, terhadap siapapun juga, baik kepada seseorang ataupun kepada sebuah golongan, karena sesungguhnya ketika kita membenci orang lain, justru orang tersebut menang dan kita kalah. Mengapa demikian?

Karena kita telah mengizinkan orang tersebut untuk mendominasi hati kita. Orang itulah yang memegang kendali atas sikap kita. Dia bisa membuat kita kesal, marah, dan mungkin juga menangis.

Kisah di zaman Rasulullah berikut ini mungkin bisa kita jadikan sebagai bahan renungan yang amat dahsyat.
Suatu hari di sebuah masjid ketika Rasullullah shalallaahu ‘alaihi wassalaam bersama-sama para Sahabat selesai melaksanakan ibadah sholat, tiba-tiba Beliau bersabda bahwa sebentar lagi akan datang seseorang yang akan dijamin masuk surga oleh ALLAH.

Kemudian masuklah seorang laki-laki (sebut saja dia Fulan) yang kemudian juga melakukan sholat dan langsung berlalu ketika dia selesai melakukannya.

Keesokan harinya, Rasullullah juga mengatakan hal yang sama, dan kemudian muncul juga seseorang yang sama dengan hari kemarin. Kejadian ini pun berulang sampai 3 hari berturut-turut.

Seorang sahabat, yakni Abdullah bin Amr, menjadi penasaran terhadap amalan apa yang biasa dilakukan oleh si Fulan sehingga Rasullullah sampai 3 kali menyerukan bahwa ia adalah seorang yang dijamin masuk surga.

Rasa penasaran ini membuat Sahabat Abdullah Bin Amr kemudian mendatangi rumah si Fulan untuk bermabit guna menyelidiki amalan rahasia apakah yang rutin dikerjakan oleh si fulan.

Sahabat Abdullah Bin Amr kemudian mengatakan bahwa dirinya saat itu sedang ada sedikit masalah dengan ayahnya dan berjanji tidak ingin menemui ayahnya sampai 3 hari ke depan sehingga kemudian ia meminta ijin untuk bisa menginap di rumah si Fulan sampai 3 hari, dan si Fulan pun mengijinkan beliau begitu saja untuk menginap di rumahnya tanpa bertanya apapun lagi kepada Sahabat Abdullah Bin Amr.

Selama 3 hari itu Sahabat Abdullah Bin Amr selalu memperhatikan setiap perbuatan si Fulan. Anehnya, Beliau tidak menemukan suatu ibadah yang istimewa yang dilakukan oleh Fulan, bahkan sholat tahajud pun jarang Fulan lakukan, kecuali Fulan selalu berdzikir ketika tidurnya terganggu di tengah malam dan kemudian mengubah posisi tidurnya, dan inipun dilakukannya setiap fulan bangun tidur.

Setelah 3 hari Beliau menginap di rumah Fulan, sebelum berpamitan pulang, akhirnya Sahabat Abdullah Bin Amr menceritakan semuanya kepada Fulan. bahwa sebenarnya Beliau sedang tidak bertengkar dengan ayahnya, dan keadaan baik-baik saja.

Beliau juga bercerita bahwa Beliau melakukan ini semua karena ingin tahu ibadah khusus apa yang Fulan lakukan sehingga Rasullullah menjaminnya masuk surga dan Rasullullah katakan hal tersebut sampai 3 kali di hadapan para sahabat. Namun sayangnya, Abdullah bin Amr merasa tidak mendapati Fulan melakukan ibadah khusus apapun selain dzikir di tengah malam.

Dengan segala kerendahan hatinya fulan kemudian berkata, “Aku memang tidak punya amalan atau ibadah yang istimewa, hanya saja… Aku tidak mempunyai rasa benci, iri, dengki kepada semua orang.”

Maasya Allah! Betapa damainya hati ketika seseorang tidak menyimpan kebencian atau penyakit hati lainnya. Jikalau benci, bencilah orang atau sekelompok orang karena Allah!

Apa maksudnya membenci orang karena Allah? Yakni kita merasa benci dikarenakan sikap yang dilakukan orang atau segolongan orang tersebut dimurkai Allah.

Misalnya kita membenci zionis Israel karena melakukan kekejian dan penjajahan di Palestina. Atau jenis kebencian yang serupa lainnya, yang didasarkan pada aturan Allah, bukan sekadar karena perasaan kita pribadi.

Itupun tidak lantas kita boleh menggeneralisir kebencian pada zionis tersebut meluas untuk seluruh orang yang berkaitan dengan Israel dan Yahudi misalnya. Bukankah Rasulullah sendiri pernah mencontohkan perbuatan luar biasa sabarnya terhadap seorang Yahudi buta?

Artinya, hanya membencilah pada perbuatannya, bukan pada orangnya. Karena itu bisa lebih mendekatkan kita pada sikap adil.

Sahabat, semoga Allah memudahkan kita untuk menghapus kebencian pada orang lain, dan hanya membenci seseorang karena Allah saja. (SH)

Baca Juga: Inspirasi Motivasi Islami -­? Houtman Berceloteh : Kisah Persahabatan si Kaya dan Miskin

Wakaf Sekarang