LPJ Kehidupan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

LPJ Kehidupan“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)

Sahabat, setiap semester maupun akhir tahun sudah pasti segala instansi, perusahaan, maupun organisasi, membuat evaluasi dan laporan pertanggungjawaban (LPJ).

Segala hal menyangkut data-data, keuangan, foto-foto dokumentasi, serta bukti-bukti kwitansi maupun dokumen-dokumen penting lainnya disertakan pada laporan tersebut.

Tak hanya bagi para pekerja, bahkan demikian juga yang diterima oleh para pelajar dan mahasiswa, setiap semester dan akhir tahun, semua mendapat lembar penilaian hasil studinya.

Segala nilai ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian praktek, jumlah kehadiran, seluruhnya dicantumkan pada laporan tersebut.

Laporan ini berfungsi sebagai bahan evaluasi diri atas apa yang telah diusahakan dalam kurun waktu tertentu, apakah nilainya baik atau buruk, adakah progres atau justru menurun.

Nah, jika di dunia saja kita memaklumi adanya laporan pertanggungjawaban atau lembar penilaian (raport) seperti itu, lalu apa yang membuat kita meragukan adanya pembagian kitab pencatatan segala amalan yang dilakukan selama di dunia ini ketika hari kebangkitan kelak?

Benar-benar tak masuk akal jika kita menganggap hidup di dunia yaa begini saja, tak ada hari pembalasan, tak ada laporan pertanggungjawaban sama sekali, semua dosa telah tertebus, kesalahan besar maupun kecil sudah terhapus. Justru hal yang seperti itu tidaklah adil bagi orang-orang yang terzalimi selama hidupnya.

Apakah kita mengira bahwa kematian di dunia ini adalah akhir segalanya? Bukan demikian, justru kematian merupakan awal segala sesuatunya.

“Aku tidak mengetahui adanya perhitungan terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.” (QS. al-Haqqah: 26—27)

Sungguh Allah telah mengutus malaikatnya untuk mencatat segala amalan yang kita lakukan di dunia ini, sebagai bukti untuk diperlihatkan kelak di hari kebangkitan. Sehingga kita tak mungkin bisa protes atau komplain atas pengadilan Allah.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Apakah gunanya pembagian kitab catatan amalan tersebut? Tentu saja sebagai bahan evaluasi amalan selama kita berada di dunia, serta sumber referensi pengambilan keputusan atas balasan yang sesuai dengan apa yang telah kita lakukan.

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

Pada hari yang menggetarkan tersebut, setiap jiwa akan diminta membaca kitab amalannya masing-masing.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 13-14)

Sahabat, sungguh di saat pembagian LPJ Kehidupan tersebut, kita akan menjadi saksi sekaligus jaksa penuntut, dan juga pengacara untuk diri kita sendiri, sedangkan Allah sebagai hakimnya.

Bagaimana mungkin kita menjadi saksi sekaligus penuntut dan pengacara yang membela diri sendiri? Tentu saja hal ini bisa terjadi, karena di hari itu setiap anggota tubuh kita memberi persaksian atas perbuatan yang mereka lakukan selama di dunia, sedangkan mulut kita yang bisa berdusta, terkunci rapat.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaasiin: 65)

Astaghfirullahal ‘adzim. Sahabat, sebelum hari tersebut tiba, marilah kita hapus segala amalan buruk dengan istighfar dan taubat nasuha. Serta memperbanyak amalan shaleh yang membuat kita tak gentar di waktu menerima kitab amalan tersebut. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang