Salah Paham Tentang “Cinta Allah”

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

cinta allah“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sahabat, apakah kita menyadari bahwa amat banyak yang salah paham tentang cinta? Banyak yang menganggap cinta itu berarti menuruti apapun semua yang diinginkan orang yang dicinta, benarkah demikian?

Bayangkanlah orangtua dan seorang anaknya yang masih kecil, suatu hari sang anak ingin memanjat pohon yang berada di tepi jurang, kira-kira apakah kedua orangtuanya mengabulkan keinginan anaknya?

Lalu jika kedua orangtuanya tak mengabulkan apa yang diminta sang anak tersebut, apakah berarti orangtuanya tak mencintai anaknya?

Ada juga orangtua yang senantiasa memberi hal-hal tak mengenakkan untuk anaknya, misalnya menyuruh anak makan sayur yang jelas-jelas tidak disukai, menyuruh anak memakai baju dan mengikat sendiri tali sepatu tanpa dibantu, bahkan terkadang menyuruh anak menyapu, mengepel dan beres-beres sendiri mainan.

Hal-hal yang menyebalkan bagi para anak, mengapakah orangtua ‘memaksa’ mereka melakukannya? Apakah ini disebabkan orangtua tak mencintai anak-anaknya atau justru inilah tanda cinta yang sesungguhnya?

Sahabat, sekarang ingat-ingatlah berbagai doa dan harapan kita yang tidak Allah kabulkan! Sadarkah kita bahwa sangat mungkin jika keinginan kita dikabulkan akan membawa keburukan untuk diri kita sendiri? Allah yang paling mengetahui, sedangkan kita tak mengetahui apapun tanpa petunjukNya.

Juga, di saat Allah memberikan kita berbagai ujian yang menyakitkan, menyebalkan, dan Allah membiarkan kita menghadapi ujian tersebut. Apakah benar ini tanda Allah jahat atau justru bentuk cinta Allah pada kita?

Inilah salah paham tentang cinta yang sering kita prasangkakan terhadap Allah. Ketika Allah tak mengabulkan keinginan padahal kita sudah bersedekah, shalat wajib dan sunah, melaksanakan apapun yang Ia perintahkan, kita pun menuduhNya jahat. Padahal kitalah yang tak paham bentuk cintaNya.

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka dia akan diuji agar Allah mendengar permohonannya (ratapannya).” (H.R. Baihaqi)

Demikian juga saat Allah memberi cobaan berbagai bentuk, mulai dari penyakit, meninggalnya karib kerabat, kekurangan harta, permusuhan, ketakutan dan kelaparan, kita menganggap Allah tega dan kejam, tanpa menyadari sangat mungkin itulah cara Allah mendidik kita agar menjadi manusia yang kuat! Atau begitulah cara Allah menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita lakukan.

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih Syaikh Al Albani)

Sahabat, perlu diingat selalu bahwa dunia memang tempat ujian, itupun hanya sesaat saja, bukankah kadar 1 hari bagi Allah setara dengan 1000 tahun ukuran manusia? Jika demikian, jatah usia manusia yang hanya sekitar 60-70 tahun bagi Allah hanyalah beberapa menit saja.

Wajar ketika Allah mencintai hambaNya, Allah akan memberi banyak ujian dalam waktu yang singkat itu. Karena Ia telah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk hamba yang dicintaiNya di kehidupan yang abadi:

“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapai (derajat itu) dengan amal-amal kebaikannya, maka Allah akan menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (H.R. Athabrani)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memahami bentuk cinta Allah dan tak salah paham pada setiap kebaikan yang Allah berikan untuk hidup kita. (SH)

Wakaf Sekarang