Wakaf Sengon, Alternatif Reboisasi yang Produktif

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tabung Wakaf Indonesia (TWI) merupakan bagian dari Dompet Dhuafa yang khusus mengelola aset atau dana wakaf. berbagai program TWI selalu dilandasi dengan tujuan “produktif”, artinya tak sekedar mengelola, namun juga menghasilkan keuntungan sehingga dapat berguna bagi umat. bila biasanya tanah wakaf dimanfaatkan untuk membuat masjid atau sekolah, maka TWI Dompet Dhuafa berbeda.

Konsep wakaf produktif yang dibawa TWI Dompet Dhuafa mengharuskan semua tim programnya berpikir kreatif dan inovatif, agar dapat mengolah barang wakaf secara tepat. program pemanfaatan lahan wakaf di TWI Dompet Dhuafa meliputi pembangunan ruko, rumah, dan lainnya, tergantung pada kondisi dan letak geografis lahan yang diwakafkan. kali in TWI Dompet Dhuafa pun membuat program produktif baru yakni ‘Wakaf Sengon’

Ide wakaf sengon muncul saat TWI Dompet Dhuafa mendapat dua tanah wakaf di Sentul dan Jonggol, Bogor, Jawa Barat masing-masing seluar 1,5 hektar.Tak seperti tanah wakaf lainnya, kedua lahan tersebut berada di tempat yang sangat tidak strategis, serta memiliki bidang curam dan bertebing, kondisi tanahnya pun kering berbatu. melihat kendala itu divisi investasi TWI Dompet Dhuafa memutar otak sambil terus melakukan riset.

“Awalnya kami sangat senang menerima wakaf seluas tiga hektar tersebut, namun setelah melihat lokasi dan kondisi tanahnya kami justru bingung bagaimana memanfaatkan lahan ini. membangun ruko disana tidak memungkinkan, menanam tanaman sayur juga tidak bisa, sampai akhirnya kami putuskan untuk ditanami pohon sengon,” ungkap Urip Budiarto, Direktur TWI Dompet Dhuafa.

Menanam pohon sengon dinilai pilihan terbaik dan paling optimal, untuk memfungsikan lahan agar lebih produktif. program ini dijalankan mulai awal februari 2012 dengan menanam 5000 pohon sengon di Jonggol, rencananya pada oktober yang akan datang 3000 pohon, dan akan ditanam di sentul. meski penanaman sengon ini baru dilakukan, namun mereka yakin hasilnya akan memuaskan saat panen pertama nanti.

“Dilihat dari segi bisnis, Sengon memang cukup menjanjikan. Apalagi pasar sengon di Indonesia permintaannya memang cukup tinggi. jadi kami tak perlu takut bila tidak ada yang mau menampung hasil panen nanti, karena justru sengon banyak dicari. satu batang sengon bisa bernilai antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, bila dari 8000 pohon yang kami tanam, dapat berhasil 50% saja maka sudah sangat menguntungkan,” tambah Urip.

Pemeliharaan sengon relatif lebih murah dan mudah, karena merupakan tanaman kayu yang memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di lahan bertebing sekali pun. panen sengon pun tergolong lebih cepat dibandingkan pohon lain seperti durian atau jati, hanya perlu waktu sekitar lima tahun supaya kayunya bisa dimanfaatkan. daerah Jonggol sendiri dapat dikatakan sebagai ‘Cntral Sengon’, karena sebelumnya memang sudah banyak pohon sengon disana milik para pengusaha Jakarta.

Selain produktif, pohon sengon juga bisa dijadikan alternatif reboisasi (penanaman kembali hutan gundul). mengingat tema go green kini sedang gencar dikampanyekan di berbagai tempat serta media, maka dengan program ini TWI Dompet Dhuafa juga turut berpartisipasi dalam menghijaukan bumi. walau tak seberapa, namun cukup segar bila banyak sebgon tumbuh dari pada sekedadr lahan kosing dan kering. (sumber : Majalah Swara Cinta)

Wakaf Sekarang