Ketika Malas “Bersih-bersih Hati”

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Membersihkan hati, jagalah hati“Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling dari perbuatannya, maka mengkilaplah hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itu pun bertambah hingga memenuhi hatinya.” (HR. Tirmidzi)

Sahabat, pernahkah melihat bagian bawah wajan yang telah menghitam pekat? Apakah wajan itu memang diciptakan pertama kalinya dalam rupa penuh coreng seperti itu, ataukah si pemiliknya yang lalai membersihkan bagian bawah wajan dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya mengerak menjadi hitam kelam?

Demikian juga hati manusia, jika ada hati yang tertutup noda kelam hingga tak bisa membedakan mana baik dan buruk, mana benar dan salah, sesungguhnya bukan Allah yang menciptakan hati tersebut dalam rupa demikian, melainkan pemiliknya lah yang abai dan lalai membersihkan hatinya hingga mengoleksi noda sedemikian tebalnya.

Maka, sebagaimana tukang nasi goreng yang memiliki modal utama wajan untuk menjual dagangannya, sesungguhnya kita pun mengandalkan hati sebagai modal untuk menjual diri kita di hadapan Allah. Seberapa layakkah kita ‘dibeli’ OlehNya?

Bukankah amatlah bodoh jika modal utama malah kita biarkan rusak perlahan-lahan hanya karena kita malas membersihkannya secara rutin?

Yang perlu diperhatikan, sering kali hati lebih mudah terbolak-balik dari keimanan menuju kesesatan lebih daripada sebuah periuk yang amat mendidih. Sehingga tentu saja jauh lebih sulit membersihkan hati dari dosa, daripada membersihkan noda dari bawah wajan yang telah mengerak.

“Sungguh hati manusia itu lebih cepat bolak-baliknya daripada periuk ketika sedang sangat mendidih.” (HR. Ahmad)

Sahabat, berikut ini beberapa keburukan jika kita malas bersih-bersih hati dan membiarkan hati teronggok kotor oleh dosa:

1. Hati adalah ‘pemimpin’ jasad, jika hati rusak karena penuh kotoran maka rusak pula amalan jasad

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (qolbu/ jantung).” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

2. Orang yang kotor hatinya bisa berbuat hal yang melampaui batas, membuat kerusakan dan tidak mengadakan perbaikan

Orang-orang yang berzina di hadapan khalayak umum tanpa canggung dan malu, maupun orang-orang yang mengambil uang rakyat dengan bangga sesungguhnya memperlihatkan betapa banyak noda di hatinya sehingga bisa santai melakukan hal-hal yang melampaui batas kewajaran.

Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Asy-Syuara: 151-152)

3. Kotoran di hati membuat kita tak sensitif terhadap dosa

Sungguh mengerikan, kotoran yang menempel di hati bisa menyebabkan kita kehilangan kepekaan atau sensitivitas terhadap dosa dan perbuatan maksiat, bahkan menganggap hal tersebut biasa-biasa saja.

“Orang yang keji memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya.” (HR. Bukhari)

4. Hati yang kotor akan menyebabkan seseorang mencintai dunia dan menjadikannya tujuan selayaknya surga

Sungguh tersesat orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, karena dunia suatu saat akan hilang, mengapa kita mau bersusah payah menuju sesuatu yang tak lama lagi akan musnah?

“Dunia itu penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi dari  Abu Hurairah. Sahih Al-Jami’ – 3412)

5. Kotoran di hati akan menyebabkan penyakit hati maupun jasad

Hati yang penuh noda mau tak mau akan terjangkiti penyakit. Penyakit ini tak sekadar penyakit hati saja, melainkan juga merambat ke penyakit jasad.

Bukankah orang yang sering memendam dengki akan mengalami kerusakan organ dalam jasadnya disebabkan ia tak pernah menemukan rasa puas atas apa yang Allah anugerahkan untuknya? Kerjanya selalu saja benci melihat kebahagiaan orang lain.

Sahabat, memang malas sekali menyikati hati secara rutin agar bersih dari dosa, akan tetapi tetap saja hal ini perlu dilakukan, agar kita tak terkena penyakit-penyakit yang bisa mematikan hati di kemudian hari.

Yuk kita jaga dan rawat hati dari berbagai noda dosa dan maksiat! Sadari bahwa hati bisa sangat cepat terkotori, sehingga perlu sering-sering dibersihkan. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang