Ketika Nikmat Berubah Menjadi Musibah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
nikmat berubah menjadi musibah

Foto: Based Photo by Pixabay

Sahabat, pernahkah menemukan fenomena, sesuatu yang lazimnya merupakan rezeki atau nikmat malah berubah menjadi musibah?

Misalnya saja hujan yang malah menyebabkan banjir dan tanah longsor. Bukankah hujan adalah rezeki dan nikmat dari Allah? Tapi kemudian ia berubah menjadi musibah. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

Atau, kenakalan remaja, saat anak-anak melakukan pergaulan bebas, seks di luar nikah, minum minuman keras, bergelimang dengan narkoba, hingga membuat susah hidup orangtua. Padahal sejatinya anak adalah rezeki, nikmat, namun mengapa bisa juga berubah menjadi musibah?

Satu hal yang pasti, sering kali musibah terjadi akibat kesalahan kita sendiri. Dalam persoalan hujan yang menjelma banjir misalnya, terjadi disebabkan banyaknya daerah resapan air yang justru disulap menjadi perumahan tempat tinggal. Atau disebabkan sampah yang dibuang sembarangan hingga menyumbat saluran air.

Anak-anak yang salah pergaulan pun biasanya terjadi dikarenakan kurangnya perhatian orangtua atau justru disebabkan orangtua yang terlalu memanjakan putra-putrinya.

Jadi faktanya, kebanyakan musibah terjadi disebabkan kesalahan yang manusia lakukan:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh sebab itu, kita perlu mewaspadai beberapa hal yang dapat menyebabkan rezeki dan nikmat  berubah menjadi musibah:

1. Ketika nikmat yang kita terima, tidak menjadikan diri kita makin dekat dengan Allah

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah,

Ketika belum punya anak sangat ringan beribadah, namun setelah punya anak malah berat sekali melaksanakan ibadah, shalat tak pernah tepat waktu, puasa sunah pun tak lagi dilakukan, ini perlu diwaspadai! Jangan sampai nikmat tersebut kelak malah berubah menjadi musibah.

2. Jika nikmat yang Allah berikan tidak membuat kita bersyukur

Sesungguhnya Allah memberikan nikmat pada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak bersyukur, nikmat tersebut malah berubah menjadi siksa,” (Hasan Al Bashri)

Nikmat atau rezeki bisa berubah menjadi ujian dan musibah manakala kita tidak bersyukur.

Hal ini bukan berarti Allah membutuhkan rasa syukur kita, sama sekali tidak. Namun karena aturan di dunia ini telah dibuat sedemikian rupa oleh Allah, sehingga orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, dan orang yang kufur akan mendapat siksa.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,“. (QS. Ibrahim: 7)

Ini adalah hukum alam yang telah Allah gariskan bagi orang yang bersyukur ataupun ingkar nikmat, sebagaimana gravitasi bumi yang selalu akan terjadi baik kita meyakininya ataupun tidak, jika kita terjun bebas dari lantai sepuluh, maka kita akan jatuh ke bawah. Maka demikianlah rezeki berubah menjadi siksa jika kita tak mensyukurinya.

3. Manakala kita tidak ridho dengan pemberian Allah

Diberi anak laki-laki, malah menggerutu ingin anak perempuan. Diberi pekerjaan di luar kantor malah menggerutu ingin bekerja di ruang ber-AC. Segala nikmat apapun, jika kita tidak ridho dan rela atas nikmat tersebut, maka Allah pun akan murka dengan tidak memberikan berkah pada apa yang dititipkannya ke diri kita.

Sama seperti orangtua yang memberi anaknya pakaian terbaik, makanan terbaik, tapi anaknya malah selalu saja menggerutu kurang ini kurang itu, harusnya begini harusnya begitu. Maka orangtua pun di suatu titik akan marah demi meluruskan sikap buruk anaknya tersebut.

Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah,” (HR. Ahmad)

Sahabat, semoga kita pandai menerima nikmat yang Allah amanahkan untuk diri kita, ridho dan bersyukur pada pemberian tersebut sehingga nikmat itu semakin membuahkan nikmat-nikmat lainnya, bukannya malah berganti menjadi musibah. (SH)

Baca Juga: Mengapa Bersyukur Dapat Menambah Nikmat

Wakaf Sekarang