Manusia Lalai VS Binatang Ternak

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

manusia lalai al-araaf-179Sahabat, disadari atau tidak, manusia sering bertingkah layaknya hewan qurban alias binatang ternak!

Bagaimana tidak? Meskipun sudah melihat dengan mata kepala sendiri kawannya diseret dan disembelih hingga bertemu ajal, sudah mendengar sendiri suara mengembik hewan-hewan yang sedang dijagal, namun tetap saja dirinya santai memamah daun! Seolah-olah kematian tak akan menemuinya.

Bahkan manusia lebih buruk derajatnya daripada hewan ternak tersebut, karena manusia tak hanya diberikan pendengaran dan penglihatan, tapi juga akal dan hati!

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS: Al A’raf: 179)

Sahabat, ayat di atas menjelaskan bahwa manusia yang tingkatannya lebih rendah dari binatang ternak adalah orang-orang yang lalai.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan lalai? Apa yang menyebabkan manusia menjadi lalai? Dan bagaimanakah ciri-ciri orang yang lalai?

Berikut ini beberapa penyebab manusia dinyatakan lalai oleh Allah:

1. Tidak meyakini adanya kehidupan akhirat

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ar-Ruum: 7)

Bukankah begitu banyak orang yang tak meyakini adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat di mana tiap manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya selama hidup? Inilah yang disebut dengan orang-orang yang lalai!

“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.  (QS Qaaf: 20-22)

Sahabat, apakah kita telah meyakini dengan sepenuhnya bahwa kiamat dan hari pengadilan itu nyata adanya? Ataukah kita termasuk golongan yang menganggap hidup setelah kematian hanyalah omong kosong dan dongeng kitab suci belaka?

Jika demikian, maka kita tiada beda… bahkan lebih buruk dibandingkan binatang ternak!

2. Merasa puas dengan kehidupan dunia hingga tidak mengindahkan ayat-ayat Allah

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”.  (QS Yunus: 7-8)

Ciri orang lalai selanjutnya adalah kepuasan terhadap kehidupan dunia, bahkan amat mencintai dunia dan merasa takut kehilangannya!

Kecintaan akan dunia ini membuatnya melakukan apa saja sekalipun harus menerabas larangan agama!

Melakukan korupsi? Toh dosa-dosanya bisa dicuci lewat sedekah! Berzina? Dianggapnya bisa suci dengan berhaji! Na’udzubillah.

“… janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS al-Kahfi: 28)

3. Jarang mengingat Allah dan tidak takut pada kuasaNya

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raaf: 205)

Orang lalai biasanya tidak banyak mengingat Allah. Begitu bangun tidur di pagi hari yang dipikirkannya adalah uang, ketika petang pun yang dipikirkannya hanyalah uang! Uang, harta benda, tahta, dan mungkin juga wanita, menjelma sebagai Tuhannya orang-orang lalai. Astaghfirullah.

4. Tidak bisa menggunakan hati, pendengaran dan penglihatan untuk memahami ayat-ayat Allah

“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS an-Nahl: 108)

Orang lalai jelas merupakan orang yang mubazir! Ia memiliki hati tapi tak pernah digunakan, demikian pula pendengaran dan penglihatannya tak bisa digunakannya untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah.

Bahkan biarpun sahabat dekatnya meninggal dunia, seseorang yang lalai tidak akan ingat bahwa suatu saat pun ia akan menjumpai ajal.

Bukankah jika demikian masih lebih baik hewan qurban daripada orang lalai? Setidak-tidaknya hewan qurban alias binatang ternak itu masih bisa dimanfaatkan oleh makhluk lain untuk menjadi bahan makanan, kornet, diperah susunya, dllsb.

Bagaimana dengan orang lalai? Apa yang Allah titipkan padanya semua menjadi tak berguna karena memang tak pernah digunakannya! Na’udzubillah.

Sahabat, semoga Allah membantu kita dengan memberi jalan keluar agar kita tak rendah di mataNya sebagaimana binatang ternak!

Mudah-mudahan kita semua mampu terhindar dari penyakit lalai! (SH)

Wakaf Sekarang