Mengapa Islam Memiliki Banyak Larangan?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

qs59-7 larangan dalam islamSahabat, pernahkah berpikir mengapa Islam memiliki banyak larangan untuk umatnya?

Tidak boleh mengonsumsi makanan dan minuman haram yang seperti ini dan itu, tidak boleh durhaka pada orangtua, tidak boleh memakan harta secara bathil, tidak boleh berzina, tidak boleh menyimpan harta untuk diri sendiri saja, tidak boleh makan riba, dan lain sebagainya?

Sebenarnya antara wajar dan lucu jika kita terpikir pertanyaan seperti itu.

Wajar karena memang banyak orang di luar Islam yang hidupnya bebas-sebebas bebasnya namun terlihat tidak kenapa-napa, hidupnya tampak tak bermasalah apapun. Jadi seolah pertanyaan ini masuk akal dan wajar saja.

Akan tetapi sebenarnya pertanyaan ini juga mengandung kelucuan, karena jangankan hidup yang banyak aturan dan larangan, kita membeli barang elektronik saja banyak aturan dan larangan juga.

Misalnya ketika kita membeli handphone, pastilah kita mendapatkan buku petunjuk mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap handphone tersebut.

Contoh, jangan celupkan handphone ke air panas, jangan bakar handphone di atas kompor, jangan dibanting, dan lainnya.

Lalu, apa yang membuat kita bingung ketika Islam melarang hal-hal buruk untuk umatnya? Bukankah ini menunjukkan kasih sayang Allah pada kaum muslimin? Bahkan semua petunjuk itu tidak hanya sekadar tercantum, tapi juga telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalaam.

Dan, terbukti… Aturan Islam telah mencetak generasi-generasi terbaik sepanjang sejarah! Bahkan seorang yang lahir di kalangan kaum jahil dan tidak beradab di jazirah Arab, bisa dibentuk oleh ajaran Islam sebagai manusia paling berpengaruh di seluruh dunia! Dialah Rasulullah Muhammad.

Sahabat, jika ada aturan dan larangan dalam Islam yang tidak kita mengerti, sudah sepatutnya kita berprasangka baik bahwa sebenarnya diri kitalah yang belum memiliki cukup ilmu untuk menelaah larangan tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” (HR. Bukhari Muslim)

Sesungguhnya banyak aturan dalam Islam yang tidak dijelaskan secara rinci agar tidak mempersulit umatnya, demikian juga banyak larangan yang tidak terinci agar kita tak menjadi sulit mengerjakannya, karena setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalan menjalankan suatu aturan. Jadi, cukup kerjakan yang diperintahkan dan jauhi segala yang dilarang sesuai kemampuan, ringan bukan?

Masih ingatkah karakter kaum Yahudi yang suka bertanya-tanya dan meminta rincian suatu perintah sehingga mereka tak bisa melaksanakan perintah tersebut karena kesulitan mengerjakannya setelah dijawab seluruh rincian yang mereka tanyakan? Na’udzubillah.

Mengapa kita mau mempersulit diri sendiri dengan mempertanyakan segala perintah dan larangan hingga sedetailnya, padahal Allah tidak menyukai hal tersebut?

Dari al-Mughîrah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  (HR. Bukhari no.1477, Muslim no.593)

Oleh sebab itu, sudah selayaknya sebagai orang yang beriman pada Allah dan RasulNya untuk taat sesuai kemampuan dan pemahaman terbaik dari masing-masing individu.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah! Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Q.S. al-Hasyr:7)

Semoga Allah memudahkan hati kita untuk menerima segala perintah dan laranganNya, serta menjadi orang bertaqwa dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. (SH)

Info Wakaf  telp: 0217416050

Tunaikan Wakaf anda melalui:

BCA 101.000.662.6699
BNI Syariah  009.153.8995
MANDIRI  101.000.662.6699
a/n Yayasan Dompet Dhuafa

Wakaf Sekarang