Menjauhi Pekerjaan Haram

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

pekerjaan haram“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR. Bukhari)

Sahabat, masa yang dimaksud oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam dalam hadits di atas mungkin sudah tiba. Saat ini banyak orang yang tak lagi peduli apakah ia mendapatkan harta dengan cara halal atau haram. Bahkan jabatan pun bisa dibeli dengan sejumlah uang.

Ironisnya, orang-orang bisa berbangga hati dengan jabatan yang mereka miliki sekalipun jabatan tersebut diperoleh bukan dari kemampuan kinerjanya. Tak sedikit pula yang mencampurkan hal yang haram dengan yang halal agar tak terlalu merasa bersalah.

Misalnya, uang hasil sogokan digunakan sebagiannya untuk wakaf saluran irigasi. Uang hasil korupsi dipakai untuk naik haji meminta ampunan Allah. Dan uang hasil riba disedekahkan sebagiannya agar tak terlalu banyak dosa.

Padahal jelas bahwa Allah tidak menerima amalan kecuali dari hasil yang baik-baik, termasuk dari
pekerjaan dan penghasilan yang halal.

“Allah tidak akan menerima shalat tanpa kesucian (dari hadats dan najis) dan juga tidak menerima sedekah dari harta haram (HR. Muslim, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Janganlah mempercayai prinsip “Yang haram saja susah mendapatkannya, apalagi yang halal!” karena sesungguhnya jika kita bertaqwa pada Allah, Ia pasti akan memberi kita rezeki dari pekerjaan yang halal.

“Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan cara yang baik. Jika ada yang merasa rezekinya terhambat, maka janganlah ia mencari rezki dengan berbuat maksiat, karena karunia Allah tidaklah di dapat dengan perbuatan maksiat.” (HR. Al Hakim dan selainnya)

Maka tinggalkanlah pekerjaan yang haram, dan berdoalah meminta Allah gantikan dengan pekerjaan yang halal. Sungguh Allah takkan menyia-nyiakan hambaNya yang bertawakal.

Sahabat, begitu banyak kerugian dari melakukan pekerjaan haram dan makan dari harta haram, di antaranya sebagai berikut:

1. Dijamin tidak akan masuk surga

Tegakah kita membiarkan diri dan keluarga terpanggang api neraka hanya karena meremehkan sumber penghasilan yang kita peroleh? Na’udzubillah min dzalik.

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.” (HR. Ahmad dan Ad Darimi)

Oleh sebab itu para istri dan anak perlu menyokong pencari nafkah utama keluarga agar senantiasa berada di jalur yang lurus dalam mencari penghasilan.

2. Berat saat mempertanggungjawabkan di hari kiamat

Sungguh sulitnya menjawab pertanyaan di hari kiamat kelak, khususnya mengenai 4 perkara yang perlu dipertanggungjawabkan:

“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan ke manakah ia meletakkannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan.” (HR. At Tirmidzi dan Ad Darimi)

3. Tidak memperoleh pahala sekalipun berbuat amal shaleh dengan harta yang diperoleh melalui pekerjaan haram tersebut

Astaghfirullah, bahkan sebanyak apapun sedekah yang kita keluarkan dari harta haram, tetap saja kita harus menanggung dosa karena memakan harta haram dan tak mendapat pahala dari amalan sedekah tersebut.

“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbebankan pada dirinya.” (Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (3367) dari jalur Darraj Abu Samah dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah.)

4. Menyebabkan kemurkaan Allah dan kebinasaan diri sendiri

Bagaimana mungkin Allah tidak murka, dari sekian banyak pekerjaan halal di muka bumi ini, kita malah memilih bertahan dalam pekerjaan haram?! Bukankah ibarat kucing peliharaan yang diberi makanan bersih dan enak oleh majikannya, namun masih saja mengais-ngais tong sampah?

“Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (Qs. Thaha: 81)

5. Pekerjaan yang haram merupakan ujian apakah kita lebih memilih percaya pada ajaran Allah atau justru mengabaikannya

“Janganlah menganggap rezeki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Carilah rezeki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram.” (HR. Baihaqi)

Sahabat, sudahkah kita memastikan kehalalan sumber penghasilan yang kita peroleh saaf ini? Mudah-mudahan kita senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang dibenci oleh Allah. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang