Mental Kaca atau Baja

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

mental kaca atau bajaSesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi).

Sahabat, pernah melihat kaca dihantam oleh palu? Apa yang terjadi?

Ya, kaca itu langsung pecah berkeping-keping, hancur tak berbentuk dalam seketika.

Namun pernahkah melihat baja dihantam oleh palu? Apa yang terjadi?

Ya, justru dengan cara itulah baja dapat dibentuk menjadi berbagai barang bermanfaat untuk manusia.

Demikian jualah cara Allah menguji, semestinya sebagai seorang yang beriman, kita telah memiliki mental baja, dan bukannya sekadar mental kaca!

Mental baja yang kuat justru membutuhkan tempaan terus-menerus agar kekuatannya bisa menjadi manfaat. Diubah bentuk menjadi perkakas rumah tangga atau peralatan keperluan manusia lainnya.

Memang tidak mudah, pasti sakit rasanya ditempa hantaman dalam bara menyala, namun hal tersebut perlu ditempuh jika memang bisa menjadikan baja lebih berharga daripada seonggok barang tak berguna, sebagaimana kaca yang langsung berubah menjadi beling tak bernilai dalam sekali hantaman.

“(Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri) Orang yang sangat banyak mendapat ujian itu adalah para Nabi, kemudian baru orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatannya kepada Agama. Jika ia sangat kukuh dan kuat dalam agamanya, sangat kuat pula ujian kepadanya dan jika lemah agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikianlah bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apa pun(HR. Turmudzi)

Bagaimana cara mengetahui apakah mental kita masih serupa kaca ataukah telah kuat sebagaimana baja?

Lihat saja kadar ujian yang Allah berikan pada kita! Apakah terlalu enteng, atau cukup berat dan rumit?

Jangan menganggap ujian itu hanya berupa kesengsaraan semata! Sesungguhnya sering kali ujian terberat dan membuat banyak mukmin terjatuh dan lalai justru yang berupa kesenangan dan kemudahan hidup.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Ibnu Abbas berkata menafsirkan ayat ini: “(Kami uji kalian) dengan kesusahan dan kesenangan, dengan sehat dan sakit, dengan kekayaan dan kefakiran, serta dengan yang halal dan yang haram. Semuanya adalah ujian.”

Jelas bahwa ujian bisa berupa hal-hal yang menyengsarakan, yakni: penyakit, kemiskinan, kelaparan, ketakutan, fitnah, namun juga bisa berupa hal-hal yang menyenangkan: jabatan tinggi, harta kekayaan, wanita dan anak-anak, serta amanah dakwah.

Sahabat, seorang yang hobi protes ketika ditempa ujian sudahlah pasti bukan seorang yang beriman pada Allah dan hari akhir. Mukmin sejati akan menyadari bahwa hakikat hidup adalah ruang ujian, di mana segala keputusan yang kita ambil semasa hidup akan dinilai, dipertanyakan, dan diminta pertanggungjawabannya di hari pengadilan.

Jika demikian hakikatnya, masihkah kita rela membiarkan mental kaca melekat pada diri kita? Mental yang hancur dan rapuh hanya karena satu-dua ujian ringan saja.

Semoga Allah menjadikan mental kita sekuat baja, dan membiarkan kita ikhlas untuk ditempaNya sebagaimana yang dikehendakiNya. (SH)

Wakaf Sekarang