Pengorbanan Tanda Kesungguhan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Barangsiapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan maka Allah justru akan memberikan musibah kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)
Adakah orang yang bersungguh-sungguh namun tidak bersedia berkorban? Rasanya tidak ada!
Omong kosong jika seseorang mengaku telah bersungguh-sungguh namun tak mau mengorbankan apapun untuk membuktikan kesungguhannya.
Bahkan sekadar untuk mendapat ijazah lulus dari bangku sekolah atau perkuliahan saja perlu pengorbanan yang tak sedikit, misalnya mengorbankan waktu santai untuk belajar, mengorbankan sejumlah Rupiah untuk biaya pendidikan dan bahkan untuk membayar guru privat, mengorbankan waktu sekian tahun untuk proses belajar, dan sejumlah pengorbanan lainnya.
Adakah yang komplain dengan pengorbanan tersebut? Cukup banyak juga sih yang protes, akan tetapi tetap saja pengorbanan dilakukan demi mendapatkan ilmu dan selembar ijazah kelulusan.
Demikian pula seseorang yang bersungguh-sungguh mengejar gadis impiannya untuk dipersunting, mungkin rela mengorbankan begitu banyak hal yang dimilikinya untuk mendapatkan sang gadis. Ia bahkan merasa pengorbanan itu bukanlah apa-apa ketika akhirnya berhasil menikahi sang gadis.
Lalu mengapa kita mengeluh jika harus mengorbankan banyak hal dalam hidup untuk mendapatkan keridhoan Allah? Harus meluangkan waktu untuk shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam, bahkan harus mau menambahkannya lagi dengan berdiri di tengah malam saat semua orang sedang terlelap, juga melakukan puasa minimal sebulan dalam setahun, serta mengorbankan sebagian harta yang dimiliki untuk orang lain.
Bukankah pengorbanan tersebut sepadan dengan apa yang Allah bayarkan untuk kita?
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)
Pasalnya, tanpa pengorbanan, maka tak akan terlihat mana yang bersungguh-sungguh, dan mana yang hanya sekadar di bibir saja.
“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Baqarah: 155)
Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar pengorbanan tidak terasa seperti sebuah pengorbanan? Bagaimanapun, istilah pengorbanan masih terkesan penuh keterpaksaan dan ketidaknyamanan.
Berikut ini beberapa cara agar menjadikan pengorbanan sebagai sesuatu yang membahagiakan:
1. Menyadari bahwa hakikatnya kita tak memiliki apapun, bahwa segala sesuatu hanyalah pinjaman dari Allah!
Apa yang kita klaim sebagai milik kita, nyatanya bukanlah milik kita. Entah itu harta benda, anak-anak, bahkan tubuh kita sendiri! Semua hanyalah pinjaman dari Allah.
Dengan menyadari fakta penting ini, kita akan tahu bahwa sebenarnya kita tak mengorbankan apapun selain mengikhlaskan segala yang dititipkan pada kita agar dipergunakan sesuai kehendak Sang Pemiliknya.
 
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.”  (Q.S. Ali Imran: 186)
Dengan menyadari hal ini pula, kita akan tahu bahwa pengorbanan adalah sebuah keniscayaan. Mengapa harus merasa berat dan merasa telah berkorban banyak untuk sesuatu yang memang sudah seharusnya kita lakukan?
2. Lakukan ‘pengorbanan’ dengan rasa cinta!
Apakah ada sesuatu yang lebih membius daripada perasaan cinta?
Dengan cinta, seorang ibu rela berlari sekian puluh kilometer hanya untuk mencari air minum bagi sang anak. Tanpa merasa bahwa itu adalah pengorbanan, terjadi begitu saja secara naluriah.
Dengan cinta, seorang ayah rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, memeras otaknya untuk mengambil keputusan penting, yang kemudian uang penghasilannya dihabiskan untuk kebutuhan keluarga. Itulah keajaiban cinta, pengorbanan merupakan hal yang naluriah akan dilakukan.
3. Mengetahui hasil ‘pengorbanan’ yang akan diperoleh
Jika telah mengetahui hasil yang dituju, biasanya pengorbanan tak akan terasa sebagai pengorbanan.
Apakah seorang driver ojek merasa pengorbanannya mengantarkan penumpang sejauh 25 km begitu besar jika dalam sebulan ia berhasil mengantongi belasan juta Rupiah? Tidak! Ia justru akan mencari penumpang yang mau diantar olehnya sebanyak-banyaknya siang dan malam!
Itulah sebabnya Allah senantiasa mendeskripsikan berbagai kenikmatan surga bagi para mukmin, agar kita menyadari betapa berharganya mengejar kenikmatan abadi tersebut, dan bahwasanya pengorbanan yang kita berikan bukanlah apa-apa, seujung kotoran kuku pun tak ada.
Sehingga setiap mukmin yang meyakini janji Allah tersebut akan mengejar habis-habisan dan berlomba-lomba mengorbankan apapun yang dimiliki untuk mencapaiNya.
Dengan demikian jelas bahwa pengorbanan hanya akan terasa berat jika kita tak menyadari hakikat bahwa kita ini tak memiliki apapun, pengorbanan juga akan terasa berat jika tak dijalani dengan rasa cinta, dan tak menyadari hasil yang bisa diperoleh dari pengorbanan tersebut.
Semoga kita dimampukan Allah untuk menjadi orang-orang yang menunjukkan kesungguhan dalam segala bentuk pengorbanan yang membahagiakan untuk menuju-Nya. (SH)
Wakaf Sekarang