Penjara Dunia

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

penjara dunia“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) se- bagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al Qashash : 77)

Sahabat, dunia merupakan penjara bagi orang mukmin. Akan tetapi perspektif penjara itu sendiri jangan sampai ditafsirkan keliru, bukan berarti seorang mukmin haruslah meninggalkan kehidupan dunia dengan cara menjadi orang miskin, lemah, dan tak berdaya.

Kisah Ibnu Hajar Al-Asyqalani dan Yahudi penjual minyak berikut ini in syaa Allah layak untuk kita renungkan:

Suatu hari seorang Yahudi penjual minyak keliling mencegat kereta mewah milik Ibnu Hajar Al-Asyqalani. Penampilan Yahudi yang kumal, kotor, compang-camping dan berbau tentu saja bagai bumi dan langit dengan penampilan sang ulama yang elegan, bersih dan tampak mewah.

“Wahai Ibnu Hajar, benarkah bahwa Nabimu berkata dunia ini seperti penjara bagi si mukmin dan surga bagi kafir?” ujar si Yahudi itu dengan raut wajah kebencian.

Ibnu Hajar membenarkan pernyataan tersebut, “Betul, demikian sabda Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam riwayat Imam Muslim wahai Yahudi.”

“Kalau begitu, akulah mukmin dan kamulah kafir!” ucap si Yahudi keras.

“Begitukah? Mengapa menurutmu demikian?” tanya Ibnu Hajar dengan tersenyum.

Yahudi itu berkata, “Lihat saja keadaanku seperti ini, persis seperti di penjara. Sementara engkau bergelimang kemewahan dari atas kepala hingga bawah kaki seperti di surga! Dengan demikian akulah mukmin sedang Engkau adalah kafir!”

Ibnu Hajar masih dengan senyumnya kemudian menjelaskan, ” Tampaknya Engkau belum mengerti wahai Yahudi. Dunia, bagi kami yang beriman kepada Allah memang seperti penjara. Dikerangkeng dan dibatasi oleh syariat-Nya. Namun demikian, banyak mukmin yang mampu menaklukkan dunia ini,” ungkapnya.

“Ketahuilah… Kondisiku yang mendapat kemewahan dan kelezatan dunia seperti ini sama sekali belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang akan diperoleh di akhirat kelak in syaa Allah, dengan demikian hidupku yang seperti ini pun merupakan penjara dibanding kesenangan akhirat yang akan didapat oleh setiap orang mukmin kelak,” lanjutnya.

“Sedangkan kaum kafir akan terhina di dalam neraka yang penuh siksaan. Ketahuilah bahwa hidupmu yang compang-camping dan penuh kekurangan seperti saat ini pun sudah seperti nikmatnya surga dibandingkan kepedihan yang akan kaum kafir peroleh kelak di neraka!”

Yahudi itu tertegun dan bergidik mendengar penjelasan Ibnu Hajar tersebut.

“Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu)…” (HR. Muslim no.4925)

Sahabat, benar bahwa dunia ini seperti penjara bagi kaum Mukmin. Bagaimana tidak, semewah apapun kehidupan yang kita jalani di dunia ini takkan ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan surga yang dijanjikan untuk kaum beriman kelak di surgaNya! Mungkin bagaikan air yang menempel di jari dibandingkan dengan lautan luas membentang.

Oleh sebab itu jangan sampai kenikmatan dunia ini memperdaya kita dan menjadikan kita lalai dalam beribadah pada Allah.

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

Dengan demikian, orang beriman takkan mau menggadaikan kesenangan akhirat hanya untuk kenikmatan dunia yang semu, karena ia tahu hal tersebut adalah kebodohan yang merugikan.

Seorang mukmin akan lebih memilih menahan diri dari segala larangan Allah, dan menghabiskan banyak waktu, harta, dan pikirannya untuk bertransaksi surga dengan Allah! Bukankah hal tersebut selayaknya orang di penjara yang mendambakan kebebasan?

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadiid : 20)

Sahabat, semoga kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang tertipu kelezatan dunia ini. Jadikanlah diri kita bagai tahanan di penjara yang mendambakan kebebasan kelak di akhirat, tebuslah kebebasan tersebut dengan banyak bersedekah dan berbuat kebajikan! In syaa Allah, kebebasan itu akan datang tak lama lagi. (SH)

Info Wakaf > Call Center: +62 21 741 6050 | SMS Center: +62 812 80 360 688 | PIN BBM: 28.739.E76

Tunaikan Wakaf anda melalui:

BCA 101.000.662.6699
BNI Syariah  009.153.8995
MANDIRI  101.000.662.6699

Muamalat 304.003.1667
a/n Yayasan Dompet Dhuafa

Wakaf Sekarang