Sudahkah Kita Benar-benar Beriman?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

surah-al-anfal-ayat-2 beriman“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang yang beriman dengan sesungguhnya…” (QS. Al-Anfal: 2-4)

Sahabat, bahkan barang dengan merek ternama pun bisa dipalsukan, sehingga di kalangan masyarakat dikenal istilah KW Super dan sejenisnya. Secara fisik barang palsu ini terlihat serupa dengan yang asli, namun jelas tak sama baik secara bahan maupun kualitas.

Nah… Tanpa disadari, barangkali keimanan kita pun demikian. Mengaku benar-benar beriman, ternyata banyak kualitas keimanan yang tidak kita miliki. Mungkin secara fisik kita terlihat sebagai seorang yang shaleh dengan bekas sujud di kening, pakaian taqwa, lisan yang sering berdzikir dan membaca Quran, namun yakinkah bahwa kita telah benar-benar beriman dengan sesungguhnya?

Allah telah menyebutkan 5 indikasi orang yang benar keimanannya dalam quran surah Al-Anfal ayat 2-4. Mari kita introspeksi apakah diri kita telah memiliki keenam hal tersebut:

1. Gemetar ketika disebutkan nama Allah

Sahabat, adakah hati kita bergetar ketika mendengar nama Allah disebut? Ataukah kita lebih bergetar ketika nama pujaan hati terngiang di telinga? Atau malah lebih gemetar lagi ketika mendengar nama bos kita yang ‘killer’ disebut-sebut?

Jika belum gemetar mendengar nama Allah disebutkan, barangkali keimanan kita masih kualitas KW sekian, tidak sungguhan.

Orang yang benar-benar beriman akan merasa gemetar hatinya setiap kali mendengar asma Allah disebutkan. Layaknya seorang kekasih yang sedang jatuh cinta mendengar nama kekasihnya disebut, juga sebagaimana seorang pencuri yang takut mendengar kata ‘polisi’ disebutkan.

Gabungan antara harap dan cemas, serta rasa cinta dan takut inilah yang berbaur dalam hati seorang mukmin dan membuatnya tak mungkin datar-datar saja ketika nama Allah disebutkan.

2. Ketika dibacakan ayat-ayat Allah, akan bertambah keimanan di dada

Sahabat, masihkah kita bersikap mendua dan ragu-ragu, yakni meyakini sebagian ayat Allah namun mengingkari sebagian ayat lainnya?

“Saya percaya mengenai keberadaan Allah, Nabi dan Rasul, malaikat, Iblis, juga setan, tapi saya menganggap kiamat itu hanyalah sesuatu yang sifatnya lokal saja. Tidak ada kehancuran besar yang benar-benar hancur. Demikian juga surga neraka, itu semua tidak benar-benar ada!”

Banyak orang yang mengaku beriman, namun hatinya tidak total dalam menerima semua kebenaran ayat-ayat Allah. Ada hal-hal yang masih dibantahnya dan bersikeras bahwa ayat tersebut perlu direvisi dalam konteks kekinian.

Misalnya, menutup aurat dengan berhijab itu bukanlah perintah Allah untuk semua umat Islam, itu hanyalah budaya Arab saja. Begitu pula membaca quran dengan gaya Arab, tidak mesti demikian karena seharusnya kita bisa membaca quran dengan gaya suku kita masing-masing. Benarkah demikian? Bukankah sudah jelas hal-hal tersebut termaktub dalam quran? Mengapa masih disangsikan?

Orang yang keimanannya benar takkan mungkin meragukan ayat Allah barang satu ayat pun. Justru semakin dibacakan ayat-ayat Allah, makin menambah keyakinan dan keimanannya.

3. Bertawakal hanya pada Allah

Ada orang yang bertawakal pada perusahaannya, menganggap hidupnya akan berakhir jika kehilangan pekerjaan saat ini, oleh sebab itu ia melakukan apapun perintah atasan dengan sebaik-baiknya, bahkan jikalaupun harus mempertaruhkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk perusahaan maka ia rela.

Ada pula yang bertawakal pada orangtuanya atau pasangan hidupnya, seolah tanpa mereka kehidupannya akan memburuk dan hancur.

Akan tetapi orang yang benar keimanannya takkan memiliki sandaran selain Allah. Hanya pada Allah ia bertawakal dan menyerahkan segala urusannya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah bertawakal hanya pada Allah? Ataukah kita masih memiliki sandaran selain Allah? Misalnya bersandar pada kekuatan diri sendiri, merasa mampu menaklukkan segala permasalahan dengan ikhtiar sekuat-kuatnya padahal justru Allah menginginkan kita memasrahkan segala permasalahan padaNya.

4. Mendirikan shalat

Orang yang benar-benar beriman takkan bermain-main dengan shalatnya, karena ia tahu batas tipis antara keimanan dan kekafiran adalah shalat.

Jika kita merasa diri beriman tapi masih meremehkan shalat lima waktu, juga mengabaikan shalat tepat waktu, maka sesungguhnya perasaan kita tersebut menipu.

5. Menafkahkan sebagian rezeki yang Allah beri

Ketika mendapat rezeki dari Allah, adakah kita terpikirkan untuk berbagi dengan hamba Allah lainnya yang kurang beruntung? Ataukah kita merasa belum aman, sehingga alih-alih menyedekahkan sebagian harta, kita malah menyimpan semua harta yang dimiliki untuk jaga-jaga di masa depan.

Kebenaran iman kita akan amat terlihat dari kebersediaan kita menafkahkan sebagian harta di jalan Allah, yakni dengan bersedekah, berwakaf, maupun mengeluarkan kewajiban zakat.

Sahabat, sudahkah kita benar-benar beriman? Semoga kita mendapatkan hidayah Allah untuk memiliki keimanan yang murni dan utuh, bukan sekadar keimanan kualitas KW. (SH)

Wakaf Sekarang